EVALUASI
BERKALA PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PkM) PROGRAM STUDI S1 ILMU
KEOLAHRAGAAN FIKK UNESA TAHUN 2025
A.
Pendahuluan
Pengabdian
kepada Masyarakat (PkM) merupakan bagian integral dari pelaksanaan Tridarma
Perguruan Tinggi dan menjadi salah satu instrumen strategis Program Studi S1
Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA dalam mengimplementasikan keilmuan, hasil
penelitian, inovasi, dan kompetensi sivitas akademika kepada masyarakat.
Pelaksanaan PkM diarahkan tidak hanya untuk menyelesaikan permasalahan
masyarakat, tetapi juga untuk memperkuat kompetensi dosen dan mahasiswa,
meningkatkan kebermanfaatan hasil penelitian, membangun kemitraan, serta
menghasilkan model pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu keolahragaan dan
teknologi.
Peta
Jalan PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA Tahun 2024–2031 disusun sebagai
arah strategis pengembangan PkM yang selaras dengan visi dan misi Program
Studi. Roadmap tersebut mengarahkan PkM secara bertahap melalui empat fase,
yaitu: (1) Penguatan Dasar dan Konsolidasi tahun 2024–2025; (2) Pengembangan
dan Implementasi tahun 2026–2027; (3) Penguatan Dampak dan Replikasi tahun
2028–2029; dan (4) Keberlanjutan dan Internasionalisasi tahun 2030–2031.
Evaluasi
berkala tahun 2026 menjadi penting karena merupakan periode awal memasuki fase Pengembangan
dan Implementasi. Pada fase ini, PkM diarahkan pada penerapan inovasi dan
hasil penelitian dalam bentuk program yang aplikatif dan memberikan dampak
langsung kepada masyarakat. Fokusnya mencakup penerapan sport science,
teknologi olahraga, rehabilitasi dan recovery, epidemiologi aktivitas fisik,
promosi kesehatan berbasis komunitas, pembinaan atlet, olahraga sekolah, serta
pengembangan dan hilirisasi hasil penelitian.
Dengan
demikian, evaluasi berkala dilakukan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan
kegiatan PkM dengan standar dan arah pengembangan Program Studi,
mengidentifikasi kekuatan dan area yang masih perlu diperbaiki, serta
memastikan hasil evaluasi terdokumentasi dan ditindaklanjuti dalam perencanaan
PkM periode berikutnya.
B.
Dasar dan Arah Evaluasi
Evaluasi
pelaksanaan PkM mengacu pada arah strategis yang ditetapkan dalam Peta Jalan
PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA. Peta jalan menegaskan bahwa PkM
harus berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, penelitian, dan kebutuhan nyata
masyarakat, sekaligus menjadi media implementasi hasil penelitian dosen dan
mahasiswa pada bidang olahraga, kesehatan, kebugaran, rehabilitasi, teknologi
olahraga, promosi kesehatan, dan pemberdayaan komunitas.
Selain
itu, pelaksanaan PkM mendukung misi Program Studi, khususnya peningkatan
kualitas, kuantitas, dan produktivitas dosen dalam kegiatan PkM serta komitmen
untuk meningkatkan keolahragaan pada tingkat lokal, regional, nasional, dan
internasional melalui implementasi keilmuan olahraga di masyarakat.
Berdasarkan
arah tersebut, evaluasi berkala menggunakan beberapa aspek standar/kriteria
pengembangan PkM Prodi, yaitu:
- Kesesuaian
dengan roadmap PkM Program Studi.
- Kesesuaian
tema dengan bidang keilmuan Ilmu Keolahragaan.
- Penerapan
ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan/atau hasil penelitian.
- Orientasi
pada kebutuhan dan permasalahan masyarakat.
- Keterlibatan
dan penguatan kapasitas mitra/komunitas.
- Keterlibatan
dan kolaborasi tim dosen.
- Ketersediaan
dukungan pendanaan.
- Potensi
keberlanjutan, replikasi, dan pengembangan model PkM.
- Dokumentasi
monitoring, evaluasi, luaran, dan tindak lanjut.
C.
Gambaran Pelaksanaan PkM Tahun 2026
Pada
tahun 2026 terdapat 8 kegiatan PkM yang dilaksanakan oleh dosen Program
Studi S1 Ilmu Keolahragaan dengan total pendanaan sebesar Rp130.000.000.
Seluruh kegiatan memiliki fokus yang berkaitan langsung dengan olahraga,
kesehatan, kebugaran, pencegahan cedera, pemulihan, nutrisi, atau pemberdayaan
masyarakat.
|
No. |
Ketua
PkM |
Judul
Kegiatan |
Dana |
Fokus
Utama |
|
1 |
Anna
Noordia, S.TP., M.Kes. |
Implementasi
Monitoring Beban Latihan Atlet Triathlon Kabupaten Sidoarjo dalam persiapan
Porprov Jatim 2025 |
Rp15.000.000 |
Sport
science, monitoring latihan, atlet |
|
2 |
Dr.
Achmad Widodo, M.Kes. |
Penerapan
Program FIFA 11 Kids bagi Pesepakbola Muda untuk Mencegah Cedera Olahraga |
Rp15.000.000 |
Pencegahan
cedera, pembinaan atlet muda |
|
3 |
Prof.
Dr. Andun Sudijandoko, M.Kes. |
Optimalisasi
Pemulihan Otot Melalui Yoga Restoratif bagi Dancer: Strategi Mengurangi
Kekakuan Otot Pasca Latihan Intensif Line Dance |
Rp15.000.000 |
Recovery,
kebugaran, olahraga |
|
4 |
Afif
Rusdiawan, S.Pd., M.Kes. |
Peningkatan
Pemahaman Nutrisi dan Beban Latihan dalam Upaya Pencegahan Cedera pada
Bulutangkis |
Rp15.000.000 |
Nutrisi,
beban latihan, pencegahan cedera |
|
5 |
Prof.
Dr. Himawan Wismanadi, M.Pd. |
Pelatihan
Pengukuran Kebugaran Mandiri pada Penggerak Olahraga Masyarakat di Kabupaten
Magetan |
Rp15.000.000 |
Kebugaran,
olahraga masyarakat |
|
6 |
Dr.
Abdul Aziz Hakim, S.Or., M.Or. |
Optimalisasi
Potensi Lokal: Pelatihan Produksi Teh Kombucha bagi Masyarakat Desa
Kebonagung Sidoarjo untuk Kesehatan dan Kewirausahaan |
Rp20.000.000 |
Kesehatan,
pemberdayaan, kewirausahaan |
|
7 |
Yudi
Dwi Saputra, M.Pd. |
Sosialisasi
Olahraga Pickleball pada Guru MGMP PJOK di Kabupaten Sumenep |
Rp20.000.000 |
Olahraga
sekolah, pengembangan olahraga |
|
8 |
— |
— |
— |
— |
D.
Analisis Kesesuaian dengan Standar
dan Peta Jalan PkM
1.
Kesesuaian dengan Tahap Roadmap
Tahun 2026
Pelaksanaan
PkM tahun 2026 secara umum menunjukkan arah yang sesuai dengan Tahap 2:
Pengembangan dan Implementasi (2026–2027). Roadmap menetapkan bahwa pada
fase ini kegiatan mulai diarahkan pada penerapan sport science, teknologi
olahraga, rehabilitasi dan recovery, promosi kesehatan berbasis komunitas,
pembinaan atlet usia dini, serta hilirisasi hasil penelitian menjadi program
pengabdian yang aplikatif.
Kesesuaian tersebut terlihat pada beberapa kegiatan utama:
·
Monitoring beban latihan atlet
triathlon secara langsung merepresentasikan penerapan sport
science melalui pemantauan dan pengelolaan beban latihan.
·
Program FIFA 11 Kids
menunjukkan implementasi intervensi berbasis ilmu olahraga untuk pencegahan
cedera pada atlet muda.
·
Yoga restoratif untuk dancer
merepresentasikan penerapan pendekatan recovery dan pemulihan setelah aktivitas
fisik intensif.
·
Nutrisi dan beban latihan pada
bulutangkis mengintegrasikan aspek sport nutrition
dan pengelolaan latihan untuk pencegahan cedera.
·
Pengukuran kebugaran mandiri
mengimplementasikan ilmu kebugaran kepada penggerak olahraga masyarakat.
·
Produksi teh kombucha
memperluas penerapan keilmuan olahraga dan kesehatan ke arah pemberdayaan
masyarakat dan kewirausahaan.
·
Pickleball bagi guru MGMP PJOK
menunjukkan implementasi pengembangan olahraga pada lingkungan sekolah.
Dengan
demikian, substansi kegiatan telah bergerak dari pola edukasi dasar menuju
penerapan keilmuan dan inovasi yang lebih aplikatif, sesuai dengan arah
transisi roadmap dari fase penguatan dasar menuju pengembangan dan
implementasi.
Penilaian:
Tercapai
secara substansial, dengan catatan bahwa bukti
implementasi inovasi dan hasil/dampak kegiatan perlu dilengkapi dalam dokumen
Monev.
E.
Analisis Pemetaan Tema PkM
Secara
substantif, kegiatan tahun 2026 memperlihatkan diversifikasi tema PkM yang
cukup baik.
1.
Sport Science dan Pembinaan
Prestasi
Kegiatan
monitoring beban latihan atlet triathlon serta peningkatan pemahaman nutrisi
dan beban latihan pada bulutangkis menunjukkan penguatan bidang sport
science berbasis kebutuhan atlet.
Hal
ini sejalan dengan arah roadmap yang mendorong penerapan sport science dan
pembinaan talenta olahraga.
2.
Pencegahan Cedera dan Recovery
Kegiatan
FIFA 11 Kids serta yoga restoratif menunjukkan adanya pengembangan tema pencegahan
cedera dan pemulihan. Kedua tema tersebut relevan dengan arah roadmap yang
secara eksplisit memasukkan rehabilitasi dan recovery komunitas olahraga
sebagai salah satu fokus tahap pengembangan dan implementasi.
3.
Kebugaran dan Olahraga Masyarakat
Pelatihan
pengukuran kebugaran mandiri menunjukkan upaya memperluas penerapan ilmu
kebugaran kepada penggerak olahraga masyarakat. Hal ini juga konsisten dengan
orientasi roadmap untuk membangun masyarakat yang aktif, sehat, produktif, dan
berdaya saing melalui olahraga.
4.
Olahraga Sekolah
Sosialisasi
pickleball kepada guru MGMP PJOK menunjukkan bahwa PkM mulai menyentuh sektor
pendidikan dan pengembangan olahraga sekolah. Ini menjadi modal penting untuk
pengembangan program olahraga sekolah yang lebih sistematis pada periode
berikutnya.
5.
Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi
Pelatihan
produksi teh kombucha merupakan bentuk perluasan PkM ke arah kesehatan
masyarakat dan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Pendekatan ini relevan
dengan prinsip pemanfaatan kearifan lokal yang menjadi bagian dari orientasi
jangka panjang roadmap.
F.
Analisis Ketercapaian Standar Prodi
|
No. |
Standar/Kriteria
Evaluasi |
Hasil
Analisis |
Status |
|
1 |
PkM
sesuai bidang keilmuan Prodi |
Seluruh
judul berkaitan dengan olahraga, kesehatan, kebugaran, pembinaan atlet,
pendidikan olahraga, atau pemberdayaan masyarakat |
Tercapai |
|
2 |
Kesesuaian
dengan roadmap PkM |
Tema
kegiatan sangat relevan dengan Tahap 2: Pengembangan dan Implementasi
2026–2027 |
Tercapai |
|
3 |
Penerapan
sport science |
Terlihat
pada monitoring beban latihan, nutrisi, pencegahan cedera, recovery, dan
pengukuran kebugaran |
Tercapai |
|
4 |
Implementasi
inovasi/hasil penelitian |
Beberapa
kegiatan menunjukkan penerapan pendekatan berbasis keilmuan, namun bukti
hilirisasi hasil penelitian belum terdokumentasi secara rinci |
Sebagian
tercapai |
|
5 |
Berbasis
kebutuhan masyarakat |
Sasaran
kegiatan spesifik: atlet, pesepakbola muda, dancer, pemain bulutangkis,
penggerak olahraga, masyarakat desa, dan guru PJOK |
Tercapai |
|
6 |
Pemberdayaan
masyarakat/mitra |
Sebagian
besar kegiatan berbentuk pelatihan, penerapan, atau sosialisasi kepada
kelompok sasaran |
Tercapai
secara substansial |
|
7 |
Kolaborasi
dosen |
Tim
pelaksana melibatkan beberapa dosen dalam setiap kegiatan |
Tercapai |
|
8 |
Dukungan
pendanaan |
Tersedia
pendanaan pada seluruh kegiatan yang tercantum, dengan total Rp130.000.000 |
Tercapai |
|
9 |
Dokumentasi
luaran dan dampak |
Data
yang tersedia belum mencantumkan capaian luaran, indikator dampak, atau hasil
pre-post |
Perlu
penguatan |
|
10 |
Monitoring
dan evaluasi |
Evaluasi
berkala telah dapat dilakukan pada level kesesuaian program, tetapi bukti
instrumen Monev dan tindak lanjut per kegiatan belum tersedia |
Perlu
penguatan |
|
11 |
Keberlanjutan/replikasi |
Potensi
keberlanjutan cukup kuat pada kegiatan atlet, sekolah, olahraga masyarakat,
dan pemberdayaan desa, tetapi belum ada bukti implementasi lanjutan |
Perlu
penguatan |
|
12 |
Integrasi
penelitian–PkM |
Tema
sport science menunjukkan peluang integrasi penelitian–PkM, tetapi hubungan
eksplisit dengan penelitian dosen/mahasiswa perlu didokumentasikan |
Sebagian
tercapai |
G.
Analisis Kekuatan Pelaksanaan PkM
Berdasarkan
evaluasi, terdapat beberapa kekuatan utama pelaksanaan PkM Prodi.
1.
Kesesuaian tema yang kuat dengan
identitas keilmuan Prodi
Tema
PkM tidak bersifat umum, tetapi dominan berada pada ranah ilmu keolahragaan.
Hal ini memperkuat positioning Prodi sebagai program studi yang
mengimplementasikan sport science untuk menyelesaikan persoalan nyata
masyarakat.
2.
Mulai terlihat hilirisasi ilmu dan
inovasi
Kegiatan
monitoring beban latihan, pencegahan cedera, recovery, nutrisi, dan pengukuran
kebugaran menunjukkan pergeseran menuju penerapan keilmuan yang lebih spesifik.
Kondisi ini sesuai dengan roadmap yang menempatkan tahun 2026–2027 sebagai fase
hilirisasi hasil penelitian dan penerapan inovasi kepada masyarakat.
3.
Sasaran PkM beragam dan strategis
Mitra/sasaran
mencakup atlet, pesepakbola muda, dancer, pemain bulutangkis, penggerak
olahraga masyarakat, masyarakat desa, dan guru PJOK. Keragaman ini menunjukkan
bahwa PkM telah menjangkau ekosistem olahraga dari tingkat prestasi,
pendidikan, komunitas, hingga pemberdayaan masyarakat.
4.
Kolaborasi antar-dosen cukup kuat
Kegiatan
melibatkan beberapa dosen dalam satu tim sehingga terdapat potensi penguatan
pendekatan multidisiplin. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan PkM
berbasis kolaborasi yang menjadi salah satu faktor pendukung roadmap.
5.
Potensi pengembangan model unggulan
Beberapa
program memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi model PkM unggulan,
khususnya:
·
model monitoring beban latihan atlet;
·
model pencegahan cedera atlet muda;
·
model recovery berbasis aktivitas fisik;
·
model edukasi nutrisi dan beban latihan;
·
model pengukuran kebugaran mandiri
masyarakat;
·
model pemberdayaan kesehatan dan
kewirausahaan berbasis potensi lokal;
·
model pengembangan olahraga baru melalui
guru PJOK.
H.
Area yang Perlu Ditingkatkan
Meskipun
kesesuaian substansi kegiatan sudah baik, evaluasi menunjukkan beberapa aspek
yang perlu diperkuat agar pelaksanaan PkM tidak berhenti pada kegiatan satu
kali.
1.
Penguatan bukti berbasis data
Setiap kegiatan perlu memiliki indikator
sebelum dan sesudah intervensi. Misalnya:
· peningkatan
pengetahuan;
· perubahan
keterampilan;
· perubahan
tingkat kebugaran;
· perubahan
pemahaman nutrisi;
· perubahan
kepatuhan terhadap monitoring beban latihan;
· perubahan
pengetahuan pencegahan cedera;
· jumlah
masyarakat yang mampu melakukan pengukuran kebugaran secara mandiri.
2.
Penguatan hubungan penelitian
dengan PkM
Setiap proposal/laporan PkM sebaiknya
mencantumkan:
hasil
penelitian dosen/mahasiswa → masalah mitra → inovasi/intervensi → implementasi
PkM → hasil → luaran → rencana keberlanjutan.
Hal
tersebut akan memperkuat bukti bahwa PkM benar-benar menjadi media hilirisasi
penelitian sebagaimana diarahkan dalam roadmap.
3.
Penguatan dokumentasi Monev
Dokumentasi minimal yang perlu tersedia
untuk setiap kegiatan adalah:
· proposal;
· surat
tugas;
· instrumen
monitoring;
· daftar
hadir;
· dokumentasi
kegiatan;
· hasil
pre-test/post-test;
· laporan
penggunaan dana;
· laporan
akhir;
· luaran;
· umpan
balik mitra;
· evaluasi
capaian indikator;
· rekomendasi
perbaikan;
· bukti
tindak lanjut.
4.
Pengembangan keberlanjutan
Kegiatan
yang berhasil tidak cukup hanya selesai pada tahun pelaksanaan. Program yang
memiliki hasil baik perlu diarahkan menjadi:
pilot project →
model PkM → replikasi → program unggulan Prodi.
Hal
ini sangat penting karena fase berikutnya dalam roadmap, yaitu 2028–2029,
diarahkan pada penguatan dampak dan replikasi model pengabdian ke berbagai
wilayah dan komunitas.
I.
Dokumentasi Evaluasi dan Tindak
Lanjut
Hasil evaluasi berkala direkomendasikan
untuk ditindaklanjuti melalui mekanisme berikut:
|
Temuan
Evaluasi |
Tindak
Lanjut |
Penanggung
Jawab |
Target |
|
Kesesuaian
tema dengan roadmap sudah baik |
Mempertahankan
fokus PkM berbasis sport science dan kesehatan |
Prodi/Tim
PkM |
Setiap
tahun |
|
Hilirisasi
penelitian belum selalu terdokumentasi |
Menambahkan
matriks keterkaitan penelitian–PkM dalam proposal/laporan |
Tim
PkM |
Mulai
siklus berikutnya |
|
Data
dampak kegiatan belum seragam |
Menetapkan
instrumen Monev standar Prodi |
Prodi |
2026 |
|
Luaran
setiap PkM belum terdokumentasi secara seragam |
Membuat
database luaran PkM |
Prodi |
2026–2027 |
|
Program
berpotensi berhenti setelah kegiatan selesai |
Menetapkan
rencana keberlanjutan bersama mitra |
Tim
PkM |
Akhir
kegiatan |
|
Potensi
replikasi belum dimanfaatkan |
Mengidentifikasi
minimal 1–2 model PkM unggulan |
Prodi |
2027 |
|
Kolaborasi
dosen sudah baik |
Memperluas
kolaborasi lintas bidang keilmuan dan mitra |
Prodi/Tim
PkM |
2026–2027 |
|
Dokumentasi
tindak lanjut belum optimal |
Menyusun
berita acara/tabel tindak lanjut hasil Monev |
Prodi |
Setiap
siklus Monev |
J.
Keterlibatan Mahasiswa dalam
Pelaksanaan PkM
Keterlibatan
mahasiswa dalam pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan bagian
penting dalam penguatan keterkaitan antara pembelajaran, penelitian, dan
pengabdian kepada masyarakat di Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA.
Peta Jalan PkM Prodi menempatkan pengabdian sebagai sarana pembelajaran
kontekstual bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi,
kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada masyarakat.
Pada
pelaksanaan PkM tahun 2026, keterlibatan mahasiswa diarahkan tidak hanya
sebagai peserta atau tenaga pendukung kegiatan, tetapi sebagai bagian dari
proses implementasi program di bawah supervisi dosen. Mahasiswa dapat
dilibatkan dalam tahapan persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data, pendampingan
masyarakat, dokumentasi, evaluasi, serta penyusunan luaran kegiatan. Pola
keterlibatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan
pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam proses pembelajaran pada
situasi nyata di masyarakat.
Secara
substansial, karakteristik kegiatan PkM tahun 2026 memberikan ruang yang cukup
luas untuk keterlibatan mahasiswa. Kegiatan monitoring beban latihan atlet,
pencegahan cedera, pemulihan otot, edukasi nutrisi dan beban latihan,
pengukuran kebugaran, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan olahraga
sekolah memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi mahasiswa Ilmu
Keolahragaan.
1.
Bentuk Keterlibatan Mahasiswa
Keterlibatan
mahasiswa dalam PkM dapat dipetakan pada beberapa tahapan berikut:
|
Tahap |
Bentuk Keterlibatan Mahasiswa |
Kompetensi yang Dikembangkan |
|
Persiapan |
Membantu
identifikasi kebutuhan mitra, penyusunan materi, instrumen, dan persiapan
teknis |
Analisis
kebutuhan, perencanaan, komunikasi |
|
Pelaksanaan |
Membantu
pelaksanaan pelatihan, sosialisasi, pengukuran, pendampingan, dan demonstrasi |
Keterampilan
teknis, komunikasi, pelayanan |
|
Pengumpulan
data |
Membantu
pengukuran kondisi fisik/kebugaran, pencatatan data, dan dokumentasi |
Pengukuran,
pengolahan data, ketelitian |
|
Pendampingan |
Mendampingi
peserta/mitra selama implementasi program |
Kepemimpinan,
kolaborasi, problem solving |
|
Monitoring |
Membantu
pemantauan pelaksanaan dan respons peserta |
Monitoring,
evaluasi, analisis |
|
Dokumentasi |
Dokumentasi
kegiatan, penyusunan bahan visual, dan pengarsipan bukti kegiatan |
Literasi
digital, dokumentasi akademik |
|
Evaluasi |
Membantu
pengumpulan umpan balik dan evaluasi hasil kegiatan |
Evaluasi
program, analisis reflektif |
|
Luaran |
Mendukung
penyusunan laporan, bahan publikasi, media edukasi, atau produk PkM |
Penulisan
ilmiah, diseminasi, kreativitas |
Keterlibatan
tersebut perlu dilaksanakan dengan pembagian tugas yang jelas antara dosen dan
mahasiswa. Dosen tetap berperan sebagai penanggung jawab akademik dan
pengendali mutu kegiatan, sedangkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung
dalam mengimplementasikan kompetensi keilmuan secara terarah dan terukur.
2.
Kesesuaian Keterlibatan Mahasiswa
dengan Roadmap PkM
Keterlibatan
mahasiswa memiliki kesesuaian langsung dengan arah roadmap PkM. Pada Tahap 1
tahun 2024–2025, mahasiswa diarahkan untuk memperoleh pengalaman dalam
komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada
masyarakat.
Memasuki
Tahap 2 tahun 2026–2027, keterlibatan tersebut perlu ditingkatkan dari sekadar
pendukung kegiatan menjadi partisipasi dalam implementasi inovasi dan hasil
penelitian. Hal ini sejalan dengan arah roadmap yang menempatkan hasil
penelitian dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari proses hilirisasi menjadi
program pengabdian yang aplikatif.
Dengan
demikian, keterlibatan mahasiswa pada tahun 2026 diarahkan untuk memenuhi pola:
Pembelajaran → Penerapan Kompetensi → Keterlibatan
dalam PkM → Pengalaman Lapangan → Evaluasi → Penguatan Kompetensi.
Pola
tersebut memperkuat posisi PkM sebagai pengalaman pembelajaran berbasis
masyarakat sekaligus mendukung pembentukan lulusan yang adaptif, profesional,
kolaboratif, dan mampu menerapkan ilmu keolahragaan pada permasalahan nyata.
K.
Evaluasi Keterlibatan Mahasiswa
Evaluasi
keterlibatan mahasiswa dilakukan untuk memastikan bahwa partisipasi mahasiswa
memberikan manfaat akademik dan pengalaman pembelajaran yang nyata. Evaluasi
tidak hanya mengukur jumlah mahasiswa yang terlibat, tetapi juga kualitas dan
relevansi peran mahasiswa dalam setiap kegiatan.
Berdasarkan
karakteristik kegiatan PkM tahun 2026, keterlibatan mahasiswa dapat dievaluasi
melalui beberapa indikator berikut:
|
Aspek Evaluasi |
Indikator |
Metode Evaluasi |
Bukti yang Perlu Didokumentasikan |
|
Kuantitas
keterlibatan |
Jumlah
mahasiswa yang terlibat pada setiap PkM |
Rekapitulasi |
Daftar
mahasiswa/tim |
|
Relevansi |
Kesesuaian
tugas dengan kompetensi Ilmu Keolahragaan |
Review
pembagian tugas |
Job
description mahasiswa |
|
Keaktifan |
Kehadiran
dan kontribusi mahasiswa |
Monitoring
dosen |
Presensi
dan logbook |
|
Kompetensi
teknis |
Kemampuan
melaksanakan tugas teknis |
Observasi/supervisi |
Lembar
penilaian |
|
Komunikasi |
Kemampuan
berinteraksi dengan mitra |
Observasi
dan umpan balik |
Form
evaluasi |
|
Kolaborasi |
Kemampuan
bekerja dalam tim |
Penilaian
dosen dan teman sejawat |
Rubrik
kolaborasi |
|
Problem
solving |
Kemampuan
merespons permasalahan lapangan |
Observasi/refleksi |
Catatan
refleksi |
|
Keterampilan
evaluasi |
Kemampuan
membantu pengumpulan dan analisis data |
Penilaian
tugas |
Instrumen/data |
|
Profesionalisme |
Disiplin,
tanggung jawab, etika pelayanan |
Observasi
dosen |
Rubrik
penilaian |
|
Pembelajaran |
Peningkatan
pemahaman dan pengalaman mahasiswa |
Refleksi/pre-post
assessment |
Refleksi
mahasiswa |
|
Kontribusi
luaran |
Keterlibatan
dalam laporan/media/publikasi |
Verifikasi
luaran |
Dokumen
luaran |
1.
Evaluasi Kualitas, Bukan Sekadar
Jumlah
Dalam
evaluasi berkala, Prodi perlu membedakan antara jumlah mahasiswa yang
terlibat dan kualitas keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa yang hanya
hadir dalam kegiatan belum dapat sepenuhnya dikategorikan sebagai mahasiswa
yang memperoleh pengalaman PkM yang optimal.
Oleh
karena itu, keterlibatan mahasiswa idealnya memenuhi sekurang-kurangnya empat
unsur:
terlibat → memiliki tugas → memperoleh supervisi →
dievaluasi.
Dengan
pola tersebut, mahasiswa memiliki bukti konkret mengenai kontribusinya dalam
kegiatan PkM sekaligus memperoleh umpan balik terhadap kompetensi yang telah
dikembangkan.
2.
Evaluasi Kompetensi Mahasiswa
Evaluasi
kompetensi mahasiswa dapat dilakukan menggunakan rubrik sederhana dengan skala
1–4:
|
Skor |
Kategori |
Deskripsi |
|
4 |
Sangat
Baik |
Mampu
melaksanakan tugas secara mandiri, tepat, komunikatif, dan bertanggung jawab |
|
3 |
Baik |
Mampu
melaksanakan tugas dengan sedikit arahan dari dosen |
|
2 |
Cukup |
Mampu
melaksanakan tugas tetapi masih membutuhkan pendampingan intensif |
|
1 |
Perlu
Pembinaan |
Belum
mampu melaksanakan tugas sesuai standar dan memerlukan pendampingan lebih
lanjut |
Aspek
yang dinilai meliputi keterampilan teknis, komunikasi, kerja sama,
kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah, dan
profesionalisme.
Hasil
penilaian tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari evaluasi internal
kegiatan PkM dan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pembinaan mahasiswa
pada kegiatan PkM berikutnya.
L.
Hasil Evaluasi dan Tindak Lanjut
Keterlibatan Mahasiswa
Evaluasi
keterlibatan mahasiswa perlu menghasilkan tindak lanjut yang terdokumentasi.
Mekanisme tindak lanjut yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:
|
Temuan Evaluasi |
Tindak Lanjut |
|
Mahasiswa
telah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan |
Mempertahankan
dan memperluas keterlibatan mahasiswa |
|
Peran
mahasiswa belum terdokumentasi secara seragam |
Menetapkan
format pembagian tugas dan logbook mahasiswa |
|
Keterlibatan
lebih banyak bersifat teknis |
Meningkatkan
peran mahasiswa dalam pengumpulan data, monitoring, dan evaluasi |
|
Belum
semua kegiatan memiliki evaluasi kompetensi mahasiswa |
Menambahkan
rubrik penilaian mahasiswa pada laporan PkM |
|
Hubungan
PkM dengan pembelajaran belum selalu terdokumentasi |
Memetakan
keterlibatan mahasiswa dengan kompetensi/mata kuliah yang relevan |
|
Potensi
keterlibatan mahasiswa dalam penelitian–PkM cukup besar |
Mendorong
mahasiswa membantu pengumpulan dan analisis data PkM yang relevan dengan
penelitian |
|
Belum
semua kontribusi mahasiswa masuk dalam luaran |
Memberikan
ruang keterlibatan mahasiswa dalam penyusunan media edukasi, laporan,
artikel, dan luaran lainnya |
|
Program
PkM berpotensi berlanjut |
Membentuk
tim mahasiswa pendamping untuk keberlanjutan program bersama mitra |
M. Mekanisme
Siklus Perbaikan Berkelanjutan
Sebagai
bentuk tindak lanjut, Prodi perlu menerapkan siklus evaluasi:
PERENCANAAN
↓
Pemetaan kebutuhan masyarakat dan roadmap PkM
↓
PELAKSANAAN
↓
Implementasi sport science, inovasi, dan hasil penelitian
↓
MONITORING
↓
Pengukuran
proses, luaran, dan capaian indicator
↓
EVALUASI
↓
Analisis
kesesuaian dengan standar Prodi dan roadmap
↓
TINDAK LANJUT
↓
Perbaikan program, penguatan luaran, dan pengembangan kemitraan
↓
REPLIKASI/PENGEMBANGAN
↓
Model PkM unggulan dan perluasan wilayah sasaran
↓
KEMBALI KE PERENCANAAN
Siklus
tersebut sejalan dengan roadmap yang menempatkan sistem monitoring dan evaluasi
sebagai salah satu faktor pendukung untuk mewujudkan PkM yang profesional,
terukur, berbasis bukti, dan berorientasi pada dampak berkelanjutan.
N.
Kesimpulan Evaluasi
1.
Peta Jalan PKM
Hasil evaluasi berkala menunjukkan
bahwa pelaksanaan PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA telah menunjukkan kesesuaian
yang kuat dengan arah Peta Jalan PkM Tahun 2024–2031, khususnya dengan Tahap
2: Pengembangan dan Implementasi tahun 2026–2027. Kegiatan yang
dilaksanakan telah bergerak dari edukasi dasar menuju penerapan ilmu
keolahragaan yang lebih aplikatif melalui monitoring beban latihan, pencegahan
cedera, recovery, nutrisi olahraga, pengukuran kebugaran, pengembangan olahraga
masyarakat, olahraga sekolah, serta pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan
dan kewirausahaan.
Dari aspek substansi, pelaksanaan
PkM telah mendukung standar Prodi dalam hal kesesuaian bidang keilmuan,
relevansi dengan kebutuhan masyarakat, kolaborasi dosen, serta penerapan ilmu
dan teknologi olahraga. PkM juga memiliki potensi yang kuat untuk menjadi
wahana hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan model pemberdayaan
masyarakat berbasis sport science.
Namun demikian, aspek dokumentasi
hasil, pengukuran dampak, bukti hilirisasi penelitian, keberlanjutan program,
serta tindak lanjut hasil monitoring dan evaluasi masih perlu diperkuat.
Oleh karena itu, tindak lanjut utama diarahkan pada standardisasi instrumen
Monev, penguatan indikator berbasis data, dokumentasi luaran dan dampak,
pemetaan hubungan penelitian–PkM, serta identifikasi program unggulan yang
dapat direplikasi pada wilayah atau komunitas lain.
Dengan tindak lanjut tersebut,
pelaksanaan PkM diharapkan tidak hanya memenuhi standar administratif dan
kesesuaian roadmap, tetapi berkembang menjadi model PkM berbasis sport
science yang terukur, terdokumentasi, berkelanjutan, dan dapat direplikasi,
sebagai fondasi menuju Tahap 3: Penguatan Dampak dan Replikasi (2028–2029).
Secara keseluruhan, evaluasi
berkala menunjukkan bahwa arah pengembangan PkM Prodi telah berada pada
jalur yang sesuai dengan roadmap, sementara prioritas peningkatan ke depan
adalah mengubah keberhasilan berbasis pelaksanaan kegiatan menjadi
keberhasilan berbasis luaran, dampak, keberlanjutan, dan replikasi.
2.
Keterlibatan Mahasiswa
Keterlibatan mahasiswa dalam PkM
merupakan komponen strategis dalam mendukung pelaksanaan Tridarma dan
pencapaian kompetensi lulusan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan. Arah tersebut
sesuai dengan Peta Jalan PkM yang menempatkan kegiatan pengabdian sebagai
wahana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan
komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada
masyarakat.
Pada tahun 2026, keterlibatan
mahasiswa perlu terus dikembangkan sejalan dengan masuknya Prodi pada Tahap 2
Peta Jalan PkM, yaitu Pengembangan
dan Implementasi. Mahasiswa tidak hanya diarahkan sebagai
pelaksana teknis, tetapi secara bertahap diberikan kesempatan untuk terlibat
dalam penerapan sport science, pengumpulan dan pengolahan data, monitoring,
evaluasi, pendampingan mitra, serta pengembangan luaran kegiatan.
Hasil evaluasi juga menunjukkan
bahwa aspek keterlibatan mahasiswa
perlu diperkuat pada sisi dokumentasi dan pengukuran kualitas partisipasi.
Oleh sebab itu, tindak lanjut yang diprioritaskan adalah penyusunan daftar
mahasiswa dan pembagian tugas, logbook kegiatan, rubrik penilaian kompetensi,
refleksi mahasiswa, serta dokumentasi kontribusi mahasiswa terhadap luaran PkM.
Dengan mekanisme tersebut,
keterlibatan mahasiswa tidak hanya menjadi indikator kuantitatif dalam
pelaksanaan PkM, tetapi menjadi bagian dari sistem pembelajaran berbasis pengalaman yang terukur,
terdokumentasi, dievaluasi, dan ditindaklanjuti. Hal ini
sekaligus memperkuat integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian
serta mendukung sasaran jangka panjang Prodi untuk menghasilkan lulusan yang
unggul, adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan keolahragaan kepada
masyarakat.