unduh dokumen


EVALUASI BERKALA PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PkM) PROGRAM STUDI S1 ILMU KEOLAHRAGAAN FIKK UNESA TAHUN 2025

 

A.    Pendahuluan

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan bagian integral dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dan menjadi salah satu instrumen strategis Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA dalam mengimplementasikan keilmuan, hasil penelitian, inovasi, dan kompetensi sivitas akademika kepada masyarakat. Pelaksanaan PkM diarahkan tidak hanya untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat, tetapi juga untuk memperkuat kompetensi dosen dan mahasiswa, meningkatkan kebermanfaatan hasil penelitian, membangun kemitraan, serta menghasilkan model pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu keolahragaan dan teknologi.

Peta Jalan PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA Tahun 2024–2031 disusun sebagai arah strategis pengembangan PkM yang selaras dengan visi dan misi Program Studi. Roadmap tersebut mengarahkan PkM secara bertahap melalui empat fase, yaitu: (1) Penguatan Dasar dan Konsolidasi tahun 2024–2025; (2) Pengembangan dan Implementasi tahun 2026–2027; (3) Penguatan Dampak dan Replikasi tahun 2028–2029; dan (4) Keberlanjutan dan Internasionalisasi tahun 2030–2031.

Evaluasi berkala tahun 2026 menjadi penting karena merupakan periode awal memasuki fase Pengembangan dan Implementasi. Pada fase ini, PkM diarahkan pada penerapan inovasi dan hasil penelitian dalam bentuk program yang aplikatif dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Fokusnya mencakup penerapan sport science, teknologi olahraga, rehabilitasi dan recovery, epidemiologi aktivitas fisik, promosi kesehatan berbasis komunitas, pembinaan atlet, olahraga sekolah, serta pengembangan dan hilirisasi hasil penelitian.

Dengan demikian, evaluasi berkala dilakukan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan kegiatan PkM dengan standar dan arah pengembangan Program Studi, mengidentifikasi kekuatan dan area yang masih perlu diperbaiki, serta memastikan hasil evaluasi terdokumentasi dan ditindaklanjuti dalam perencanaan PkM periode berikutnya.

 

 


B.   Dasar dan Arah Evaluasi

Evaluasi pelaksanaan PkM mengacu pada arah strategis yang ditetapkan dalam Peta Jalan PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA. Peta jalan menegaskan bahwa PkM harus berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, penelitian, dan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus menjadi media implementasi hasil penelitian dosen dan mahasiswa pada bidang olahraga, kesehatan, kebugaran, rehabilitasi, teknologi olahraga, promosi kesehatan, dan pemberdayaan komunitas.

Selain itu, pelaksanaan PkM mendukung misi Program Studi, khususnya peningkatan kualitas, kuantitas, dan produktivitas dosen dalam kegiatan PkM serta komitmen untuk meningkatkan keolahragaan pada tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional melalui implementasi keilmuan olahraga di masyarakat.

Berdasarkan arah tersebut, evaluasi berkala menggunakan beberapa aspek standar/kriteria pengembangan PkM Prodi, yaitu:

  1. Kesesuaian dengan roadmap PkM Program Studi.
  2. Kesesuaian tema dengan bidang keilmuan Ilmu Keolahragaan.
  3. Penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan/atau hasil penelitian.
  4. Orientasi pada kebutuhan dan permasalahan masyarakat.
  5. Keterlibatan dan penguatan kapasitas mitra/komunitas.
  6. Keterlibatan dan kolaborasi tim dosen.
  7. Ketersediaan dukungan pendanaan.
  8. Potensi keberlanjutan, replikasi, dan pengembangan model PkM.
  9. Dokumentasi monitoring, evaluasi, luaran, dan tindak lanjut.

 

C.   Gambaran Pelaksanaan PkM Tahun 2026

Pada tahun 2026 terdapat 8 kegiatan PkM yang dilaksanakan oleh dosen Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan dengan total pendanaan sebesar Rp130.000.000. Seluruh kegiatan memiliki fokus yang berkaitan langsung dengan olahraga, kesehatan, kebugaran, pencegahan cedera, pemulihan, nutrisi, atau pemberdayaan masyarakat.

 

No.

Ketua PkM

Judul Kegiatan

Dana

Fokus Utama

1

Anna Noordia, S.TP., M.Kes.

Implementasi Monitoring Beban Latihan Atlet Triathlon Kabupaten Sidoarjo dalam persiapan Porprov Jatim 2025

Rp15.000.000

Sport science, monitoring latihan, atlet

2

Dr. Achmad Widodo, M.Kes.

Penerapan Program FIFA 11 Kids bagi Pesepakbola Muda untuk Mencegah Cedera Olahraga

Rp15.000.000

Pencegahan cedera, pembinaan atlet muda

3

Prof. Dr. Andun Sudijandoko, M.Kes.

Optimalisasi Pemulihan Otot Melalui Yoga Restoratif bagi Dancer: Strategi Mengurangi Kekakuan Otot Pasca Latihan Intensif Line Dance

Rp15.000.000

Recovery, kebugaran, olahraga

4

Afif Rusdiawan, S.Pd., M.Kes.

Peningkatan Pemahaman Nutrisi dan Beban Latihan dalam Upaya Pencegahan Cedera pada Bulutangkis

Rp15.000.000

Nutrisi, beban latihan, pencegahan cedera

5

Prof. Dr. Himawan Wismanadi, M.Pd.

Pelatihan Pengukuran Kebugaran Mandiri pada Penggerak Olahraga Masyarakat di Kabupaten Magetan

Rp15.000.000

Kebugaran, olahraga masyarakat

6

Dr. Abdul Aziz Hakim, S.Or., M.Or.

Optimalisasi Potensi Lokal: Pelatihan Produksi Teh Kombucha bagi Masyarakat Desa Kebonagung Sidoarjo untuk Kesehatan dan Kewirausahaan

Rp20.000.000

Kesehatan, pemberdayaan, kewirausahaan

7

Yudi Dwi Saputra, M.Pd.

Sosialisasi Olahraga Pickleball pada Guru MGMP PJOK di Kabupaten Sumenep

Rp20.000.000

Olahraga sekolah, pengembangan olahraga

8

—

—

—

—


D.   Analisis Kesesuaian dengan Standar dan Peta Jalan PkM

1.   Kesesuaian dengan Tahap Roadmap Tahun 2026

Pelaksanaan PkM tahun 2026 secara umum menunjukkan arah yang sesuai dengan Tahap 2: Pengembangan dan Implementasi (2026–2027). Roadmap menetapkan bahwa pada fase ini kegiatan mulai diarahkan pada penerapan sport science, teknologi olahraga, rehabilitasi dan recovery, promosi kesehatan berbasis komunitas, pembinaan atlet usia dini, serta hilirisasi hasil penelitian menjadi program pengabdian yang aplikatif.
Kesesuaian tersebut terlihat pada beberapa kegiatan utama:

·        Monitoring beban latihan atlet triathlon secara langsung merepresentasikan penerapan sport science melalui pemantauan dan pengelolaan beban latihan.

·        Program FIFA 11 Kids menunjukkan implementasi intervensi berbasis ilmu olahraga untuk pencegahan cedera pada atlet muda.

·        Yoga restoratif untuk dancer merepresentasikan penerapan pendekatan recovery dan pemulihan setelah aktivitas fisik intensif.

·        Nutrisi dan beban latihan pada bulutangkis mengintegrasikan aspek sport nutrition dan pengelolaan latihan untuk pencegahan cedera.

·        Pengukuran kebugaran mandiri mengimplementasikan ilmu kebugaran kepada penggerak olahraga masyarakat.

·        Produksi teh kombucha memperluas penerapan keilmuan olahraga dan kesehatan ke arah pemberdayaan masyarakat dan kewirausahaan.

·        Pickleball bagi guru MGMP PJOK menunjukkan implementasi pengembangan olahraga pada lingkungan sekolah.

Dengan demikian, substansi kegiatan telah bergerak dari pola edukasi dasar menuju penerapan keilmuan dan inovasi yang lebih aplikatif, sesuai dengan arah transisi roadmap dari fase penguatan dasar menuju pengembangan dan implementasi.

Penilaian:

Tercapai secara substansial, dengan catatan bahwa bukti implementasi inovasi dan hasil/dampak kegiatan perlu dilengkapi dalam dokumen Monev.

 

 

 


E.    Analisis Pemetaan Tema PkM

Secara substantif, kegiatan tahun 2026 memperlihatkan diversifikasi tema PkM yang cukup baik.

1.    Sport Science dan Pembinaan Prestasi

Kegiatan monitoring beban latihan atlet triathlon serta peningkatan pemahaman nutrisi dan beban latihan pada bulutangkis menunjukkan penguatan bidang sport science berbasis kebutuhan atlet.

Hal ini sejalan dengan arah roadmap yang mendorong penerapan sport science dan pembinaan talenta olahraga.

2.    Pencegahan Cedera dan Recovery

Kegiatan FIFA 11 Kids serta yoga restoratif menunjukkan adanya pengembangan tema pencegahan cedera dan pemulihan. Kedua tema tersebut relevan dengan arah roadmap yang secara eksplisit memasukkan rehabilitasi dan recovery komunitas olahraga sebagai salah satu fokus tahap pengembangan dan implementasi.

3.    Kebugaran dan Olahraga Masyarakat

Pelatihan pengukuran kebugaran mandiri menunjukkan upaya memperluas penerapan ilmu kebugaran kepada penggerak olahraga masyarakat. Hal ini juga konsisten dengan orientasi roadmap untuk membangun masyarakat yang aktif, sehat, produktif, dan berdaya saing melalui olahraga.

4.    Olahraga Sekolah

Sosialisasi pickleball kepada guru MGMP PJOK menunjukkan bahwa PkM mulai menyentuh sektor pendidikan dan pengembangan olahraga sekolah. Ini menjadi modal penting untuk pengembangan program olahraga sekolah yang lebih sistematis pada periode berikutnya.

5.    Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi

Pelatihan produksi teh kombucha merupakan bentuk perluasan PkM ke arah kesehatan masyarakat dan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Pendekatan ini relevan dengan prinsip pemanfaatan kearifan lokal yang menjadi bagian dari orientasi jangka panjang roadmap.

 

 


F.        Analisis Ketercapaian Standar Prodi

No.

Standar/Kriteria Evaluasi

Hasil Analisis

Status

1

PkM sesuai bidang keilmuan Prodi

Seluruh judul berkaitan dengan olahraga, kesehatan, kebugaran, pembinaan atlet, pendidikan olahraga, atau pemberdayaan masyarakat

Tercapai

2

Kesesuaian dengan roadmap PkM

Tema kegiatan sangat relevan dengan Tahap 2: Pengembangan dan Implementasi 2026–2027

Tercapai

3

Penerapan sport science

Terlihat pada monitoring beban latihan, nutrisi, pencegahan cedera, recovery, dan pengukuran kebugaran

Tercapai

4

Implementasi inovasi/hasil penelitian

Beberapa kegiatan menunjukkan penerapan pendekatan berbasis keilmuan, namun bukti hilirisasi hasil penelitian belum terdokumentasi secara rinci

Sebagian tercapai

5

Berbasis kebutuhan masyarakat

Sasaran kegiatan spesifik: atlet, pesepakbola muda, dancer, pemain bulutangkis, penggerak olahraga, masyarakat desa, dan guru PJOK

Tercapai

6

Pemberdayaan masyarakat/mitra

Sebagian besar kegiatan berbentuk pelatihan, penerapan, atau sosialisasi kepada kelompok sasaran

Tercapai secara substansial

7

Kolaborasi dosen

Tim pelaksana melibatkan beberapa dosen dalam setiap kegiatan

Tercapai

8

Dukungan pendanaan

Tersedia pendanaan pada seluruh kegiatan yang tercantum, dengan total Rp130.000.000

Tercapai

9

Dokumentasi luaran dan dampak

Data yang tersedia belum mencantumkan capaian luaran, indikator dampak, atau hasil pre-post

Perlu penguatan

10

Monitoring dan evaluasi

Evaluasi berkala telah dapat dilakukan pada level kesesuaian program, tetapi bukti instrumen Monev dan tindak lanjut per kegiatan belum tersedia

Perlu penguatan

11

Keberlanjutan/replikasi

Potensi keberlanjutan cukup kuat pada kegiatan atlet, sekolah, olahraga masyarakat, dan pemberdayaan desa, tetapi belum ada bukti implementasi lanjutan

Perlu penguatan

12

Integrasi penelitian–PkM

Tema sport science menunjukkan peluang integrasi penelitian–PkM, tetapi hubungan eksplisit dengan penelitian dosen/mahasiswa perlu didokumentasikan

Sebagian tercapai


 

G.      Analisis Kekuatan Pelaksanaan PkM

Berdasarkan evaluasi, terdapat beberapa kekuatan utama pelaksanaan PkM Prodi.

1.       Kesesuaian tema yang kuat dengan identitas keilmuan Prodi

Tema PkM tidak bersifat umum, tetapi dominan berada pada ranah ilmu keolahragaan. Hal ini memperkuat positioning Prodi sebagai program studi yang mengimplementasikan sport science untuk menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.

2.       Mulai terlihat hilirisasi ilmu dan inovasi

Kegiatan monitoring beban latihan, pencegahan cedera, recovery, nutrisi, dan pengukuran kebugaran menunjukkan pergeseran menuju penerapan keilmuan yang lebih spesifik. Kondisi ini sesuai dengan roadmap yang menempatkan tahun 2026–2027 sebagai fase hilirisasi hasil penelitian dan penerapan inovasi kepada masyarakat.

3.       Sasaran PkM beragam dan strategis

Mitra/sasaran mencakup atlet, pesepakbola muda, dancer, pemain bulutangkis, penggerak olahraga masyarakat, masyarakat desa, dan guru PJOK. Keragaman ini menunjukkan bahwa PkM telah menjangkau ekosistem olahraga dari tingkat prestasi, pendidikan, komunitas, hingga pemberdayaan masyarakat.

4.       Kolaborasi antar-dosen cukup kuat

Kegiatan melibatkan beberapa dosen dalam satu tim sehingga terdapat potensi penguatan pendekatan multidisiplin. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan PkM berbasis kolaborasi yang menjadi salah satu faktor pendukung roadmap.

5.       Potensi pengembangan model unggulan

Beberapa program memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi model PkM unggulan, khususnya:

·        model monitoring beban latihan atlet;

·        model pencegahan cedera atlet muda;

·        model recovery berbasis aktivitas fisik;

·        model edukasi nutrisi dan beban latihan;

·        model pengukuran kebugaran mandiri masyarakat;

·        model pemberdayaan kesehatan dan kewirausahaan berbasis potensi lokal;

·        model pengembangan olahraga baru melalui guru PJOK.


H.      Area yang Perlu Ditingkatkan

Meskipun kesesuaian substansi kegiatan sudah baik, evaluasi menunjukkan beberapa aspek yang perlu diperkuat agar pelaksanaan PkM tidak berhenti pada kegiatan satu kali.

1.    Penguatan bukti berbasis data

Setiap kegiatan perlu memiliki indikator sebelum dan sesudah intervensi. Misalnya:

·     peningkatan pengetahuan;

·     perubahan keterampilan;

·     perubahan tingkat kebugaran;

·     perubahan pemahaman nutrisi;

·     perubahan kepatuhan terhadap monitoring beban latihan;

·     perubahan pengetahuan pencegahan cedera;

·     jumlah masyarakat yang mampu melakukan pengukuran kebugaran secara mandiri.

2.    Penguatan hubungan penelitian dengan PkM

Setiap proposal/laporan PkM sebaiknya mencantumkan:

hasil penelitian dosen/mahasiswa → masalah mitra → inovasi/intervensi → implementasi PkM → hasil → luaran → rencana keberlanjutan.

Hal tersebut akan memperkuat bukti bahwa PkM benar-benar menjadi media hilirisasi penelitian sebagaimana diarahkan dalam roadmap.

3.    Penguatan dokumentasi Monev

Dokumentasi minimal yang perlu tersedia untuk setiap kegiatan adalah:

·     proposal;

·     surat tugas;

·     instrumen monitoring;

·     daftar hadir;

·     dokumentasi kegiatan;

·     hasil pre-test/post-test;

·     laporan penggunaan dana;

·     laporan akhir;

·     luaran;

·     umpan balik mitra;

·     evaluasi capaian indikator;

·     rekomendasi perbaikan;

·     bukti tindak lanjut.

4.    Pengembangan keberlanjutan

Kegiatan yang berhasil tidak cukup hanya selesai pada tahun pelaksanaan. Program yang memiliki hasil baik perlu diarahkan menjadi:

pilot project → model PkM → replikasi → program unggulan Prodi.

Hal ini sangat penting karena fase berikutnya dalam roadmap, yaitu 2028–2029, diarahkan pada penguatan dampak dan replikasi model pengabdian ke berbagai wilayah dan komunitas.

 

 

 

 

 


I.          Dokumentasi Evaluasi dan Tindak Lanjut

Hasil evaluasi berkala direkomendasikan untuk ditindaklanjuti melalui mekanisme berikut:

Temuan Evaluasi

Tindak Lanjut

Penanggung Jawab

Target

Kesesuaian tema dengan roadmap sudah baik

Mempertahankan fokus PkM berbasis sport science dan kesehatan

Prodi/Tim PkM

Setiap tahun

Hilirisasi penelitian belum selalu terdokumentasi

Menambahkan matriks keterkaitan penelitian–PkM dalam proposal/laporan

Tim PkM

Mulai siklus berikutnya

Data dampak kegiatan belum seragam

Menetapkan instrumen Monev standar Prodi

Prodi

2026

Luaran setiap PkM belum terdokumentasi secara seragam

Membuat database luaran PkM

Prodi

2026–2027

Program berpotensi berhenti setelah kegiatan selesai

Menetapkan rencana keberlanjutan bersama mitra

Tim PkM

Akhir kegiatan

Potensi replikasi belum dimanfaatkan

Mengidentifikasi minimal 1–2 model PkM unggulan

Prodi

2027

Kolaborasi dosen sudah baik

Memperluas kolaborasi lintas bidang keilmuan dan mitra

Prodi/Tim PkM

2026–2027

Dokumentasi tindak lanjut belum optimal

Menyusun berita acara/tabel tindak lanjut hasil Monev

Prodi

Setiap siklus Monev

 

 

 

 

 

 


J.      Keterlibatan Mahasiswa dalam Pelaksanaan PkM

Keterlibatan mahasiswa dalam pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan bagian penting dalam penguatan keterkaitan antara pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA. Peta Jalan PkM Prodi menempatkan pengabdian sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada masyarakat.

Pada pelaksanaan PkM tahun 2026, keterlibatan mahasiswa diarahkan tidak hanya sebagai peserta atau tenaga pendukung kegiatan, tetapi sebagai bagian dari proses implementasi program di bawah supervisi dosen. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam tahapan persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data, pendampingan masyarakat, dokumentasi, evaluasi, serta penyusunan luaran kegiatan. Pola keterlibatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam proses pembelajaran pada situasi nyata di masyarakat.

Secara substansial, karakteristik kegiatan PkM tahun 2026 memberikan ruang yang cukup luas untuk keterlibatan mahasiswa. Kegiatan monitoring beban latihan atlet, pencegahan cedera, pemulihan otot, edukasi nutrisi dan beban latihan, pengukuran kebugaran, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan olahraga sekolah memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi mahasiswa Ilmu Keolahragaan.

1.       Bentuk Keterlibatan Mahasiswa

Keterlibatan mahasiswa dalam PkM dapat dipetakan pada beberapa tahapan berikut:

Tahap

Bentuk Keterlibatan Mahasiswa

Kompetensi yang Dikembangkan

Persiapan

Membantu identifikasi kebutuhan mitra, penyusunan materi, instrumen, dan persiapan teknis

Analisis kebutuhan, perencanaan, komunikasi

Pelaksanaan

Membantu pelaksanaan pelatihan, sosialisasi, pengukuran, pendampingan, dan demonstrasi

Keterampilan teknis, komunikasi, pelayanan

Pengumpulan data

Membantu pengukuran kondisi fisik/kebugaran, pencatatan data, dan dokumentasi

Pengukuran, pengolahan data, ketelitian

Pendampingan

Mendampingi peserta/mitra selama implementasi program

Kepemimpinan, kolaborasi, problem solving

Monitoring

Membantu pemantauan pelaksanaan dan respons peserta

Monitoring, evaluasi, analisis

Dokumentasi

Dokumentasi kegiatan, penyusunan bahan visual, dan pengarsipan bukti kegiatan

Literasi digital, dokumentasi akademik

Evaluasi

Membantu pengumpulan umpan balik dan evaluasi hasil kegiatan

Evaluasi program, analisis reflektif

Luaran

Mendukung penyusunan laporan, bahan publikasi, media edukasi, atau produk PkM

Penulisan ilmiah, diseminasi, kreativitas

 

Keterlibatan tersebut perlu dilaksanakan dengan pembagian tugas yang jelas antara dosen dan mahasiswa. Dosen tetap berperan sebagai penanggung jawab akademik dan pengendali mutu kegiatan, sedangkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengimplementasikan kompetensi keilmuan secara terarah dan terukur.

2.           Kesesuaian Keterlibatan Mahasiswa dengan Roadmap PkM

Keterlibatan mahasiswa memiliki kesesuaian langsung dengan arah roadmap PkM. Pada Tahap 1 tahun 2024–2025, mahasiswa diarahkan untuk memperoleh pengalaman dalam komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada masyarakat.

Memasuki Tahap 2 tahun 2026–2027, keterlibatan tersebut perlu ditingkatkan dari sekadar pendukung kegiatan menjadi partisipasi dalam implementasi inovasi dan hasil penelitian. Hal ini sejalan dengan arah roadmap yang menempatkan hasil penelitian dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari proses hilirisasi menjadi program pengabdian yang aplikatif.

Dengan demikian, keterlibatan mahasiswa pada tahun 2026 diarahkan untuk memenuhi pola:

Pembelajaran → Penerapan Kompetensi → Keterlibatan dalam PkM → Pengalaman Lapangan → Evaluasi → Penguatan Kompetensi.

Pola tersebut memperkuat posisi PkM sebagai pengalaman pembelajaran berbasis masyarakat sekaligus mendukung pembentukan lulusan yang adaptif, profesional, kolaboratif, dan mampu menerapkan ilmu keolahragaan pada permasalahan nyata.


K.   Evaluasi Keterlibatan Mahasiswa

Evaluasi keterlibatan mahasiswa dilakukan untuk memastikan bahwa partisipasi mahasiswa memberikan manfaat akademik dan pengalaman pembelajaran yang nyata. Evaluasi tidak hanya mengukur jumlah mahasiswa yang terlibat, tetapi juga kualitas dan relevansi peran mahasiswa dalam setiap kegiatan.

Berdasarkan karakteristik kegiatan PkM tahun 2026, keterlibatan mahasiswa dapat dievaluasi melalui beberapa indikator berikut:

Aspek Evaluasi

Indikator

Metode Evaluasi

Bukti yang Perlu Didokumentasikan

Kuantitas keterlibatan

Jumlah mahasiswa yang terlibat pada setiap PkM

Rekapitulasi

Daftar mahasiswa/tim

Relevansi

Kesesuaian tugas dengan kompetensi Ilmu Keolahragaan

Review pembagian tugas

Job description mahasiswa

Keaktifan

Kehadiran dan kontribusi mahasiswa

Monitoring dosen

Presensi dan logbook

Kompetensi teknis

Kemampuan melaksanakan tugas teknis

Observasi/supervisi

Lembar penilaian

Komunikasi

Kemampuan berinteraksi dengan mitra

Observasi dan umpan balik

Form evaluasi

Kolaborasi

Kemampuan bekerja dalam tim

Penilaian dosen dan teman sejawat

Rubrik kolaborasi

Problem solving

Kemampuan merespons permasalahan lapangan

Observasi/refleksi

Catatan refleksi

Keterampilan evaluasi

Kemampuan membantu pengumpulan dan analisis data

Penilaian tugas

Instrumen/data

Profesionalisme

Disiplin, tanggung jawab, etika pelayanan

Observasi dosen

Rubrik penilaian

Pembelajaran

Peningkatan pemahaman dan pengalaman mahasiswa

Refleksi/pre-post assessment

Refleksi mahasiswa

Kontribusi luaran

Keterlibatan dalam laporan/media/publikasi

Verifikasi luaran

Dokumen luaran

 

1.   Evaluasi Kualitas, Bukan Sekadar Jumlah

Dalam evaluasi berkala, Prodi perlu membedakan antara jumlah mahasiswa yang terlibat dan kualitas keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa yang hanya hadir dalam kegiatan belum dapat sepenuhnya dikategorikan sebagai mahasiswa yang memperoleh pengalaman PkM yang optimal.

Oleh karena itu, keterlibatan mahasiswa idealnya memenuhi sekurang-kurangnya empat unsur:

terlibat → memiliki tugas → memperoleh supervisi → dievaluasi.

Dengan pola tersebut, mahasiswa memiliki bukti konkret mengenai kontribusinya dalam kegiatan PkM sekaligus memperoleh umpan balik terhadap kompetensi yang telah dikembangkan.

2.       Evaluasi Kompetensi Mahasiswa

Evaluasi kompetensi mahasiswa dapat dilakukan menggunakan rubrik sederhana dengan skala 1–4:

Skor

Kategori

Deskripsi

4

Sangat Baik

Mampu melaksanakan tugas secara mandiri, tepat, komunikatif, dan bertanggung jawab

3

Baik

Mampu melaksanakan tugas dengan sedikit arahan dari dosen

2

Cukup

Mampu melaksanakan tugas tetapi masih membutuhkan pendampingan intensif

1

Perlu Pembinaan

Belum mampu melaksanakan tugas sesuai standar dan memerlukan pendampingan lebih lanjut

 

Aspek yang dinilai meliputi keterampilan teknis, komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah, dan profesionalisme.

Hasil penilaian tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari evaluasi internal kegiatan PkM dan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pembinaan mahasiswa pada kegiatan PkM berikutnya.


 

 

 

 

L.    Hasil Evaluasi dan Tindak Lanjut Keterlibatan Mahasiswa

Evaluasi keterlibatan mahasiswa perlu menghasilkan tindak lanjut yang terdokumentasi. Mekanisme tindak lanjut yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:

Temuan Evaluasi

Tindak Lanjut

Mahasiswa telah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan

Mempertahankan dan memperluas keterlibatan mahasiswa

Peran mahasiswa belum terdokumentasi secara seragam

Menetapkan format pembagian tugas dan logbook mahasiswa

Keterlibatan lebih banyak bersifat teknis

Meningkatkan peran mahasiswa dalam pengumpulan data, monitoring, dan evaluasi

Belum semua kegiatan memiliki evaluasi kompetensi mahasiswa

Menambahkan rubrik penilaian mahasiswa pada laporan PkM

Hubungan PkM dengan pembelajaran belum selalu terdokumentasi

Memetakan keterlibatan mahasiswa dengan kompetensi/mata kuliah yang relevan

Potensi keterlibatan mahasiswa dalam penelitian–PkM cukup besar

Mendorong mahasiswa membantu pengumpulan dan analisis data PkM yang relevan dengan penelitian

Belum semua kontribusi mahasiswa masuk dalam luaran

Memberikan ruang keterlibatan mahasiswa dalam penyusunan media edukasi, laporan, artikel, dan luaran lainnya

Program PkM berpotensi berlanjut

Membentuk tim mahasiswa pendamping untuk keberlanjutan program bersama mitra

 

 

M.  Mekanisme Siklus Perbaikan Berkelanjutan

Sebagai bentuk tindak lanjut, Prodi perlu menerapkan siklus evaluasi:

PERENCANAAN
↓
Pemetaan kebutuhan masyarakat dan roadmap PkM

↓
PELAKSANAAN
↓
Implementasi sport science, inovasi, dan hasil penelitian

↓
MONITORING
↓

Pengukuran proses, luaran, dan capaian indicator

↓
EVALUASI
↓

Analisis kesesuaian dengan standar Prodi dan roadmap

↓
TINDAK LANJUT

↓
Perbaikan program, penguatan luaran, dan pengembangan kemitraan

↓
REPLIKASI/PENGEMBANGAN
↓
Model PkM unggulan dan perluasan wilayah sasaran

↓
KEMBALI KE PERENCANAAN

 

Siklus tersebut sejalan dengan roadmap yang menempatkan sistem monitoring dan evaluasi sebagai salah satu faktor pendukung untuk mewujudkan PkM yang profesional, terukur, berbasis bukti, dan berorientasi pada dampak berkelanjutan.

 

N.   Kesimpulan Evaluasi

1.   Peta Jalan PKM

Hasil evaluasi berkala menunjukkan bahwa pelaksanaan PkM Prodi S1 Ilmu Keolahragaan FIKK UNESA telah menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan arah Peta Jalan PkM Tahun 2024–2031, khususnya dengan Tahap 2: Pengembangan dan Implementasi tahun 2026–2027. Kegiatan yang dilaksanakan telah bergerak dari edukasi dasar menuju penerapan ilmu keolahragaan yang lebih aplikatif melalui monitoring beban latihan, pencegahan cedera, recovery, nutrisi olahraga, pengukuran kebugaran, pengembangan olahraga masyarakat, olahraga sekolah, serta pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan dan kewirausahaan.

Dari aspek substansi, pelaksanaan PkM telah mendukung standar Prodi dalam hal kesesuaian bidang keilmuan, relevansi dengan kebutuhan masyarakat, kolaborasi dosen, serta penerapan ilmu dan teknologi olahraga. PkM juga memiliki potensi yang kuat untuk menjadi wahana hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan model pemberdayaan masyarakat berbasis sport science.

Namun demikian, aspek dokumentasi hasil, pengukuran dampak, bukti hilirisasi penelitian, keberlanjutan program, serta tindak lanjut hasil monitoring dan evaluasi masih perlu diperkuat. Oleh karena itu, tindak lanjut utama diarahkan pada standardisasi instrumen Monev, penguatan indikator berbasis data, dokumentasi luaran dan dampak, pemetaan hubungan penelitian–PkM, serta identifikasi program unggulan yang dapat direplikasi pada wilayah atau komunitas lain.

Dengan tindak lanjut tersebut, pelaksanaan PkM diharapkan tidak hanya memenuhi standar administratif dan kesesuaian roadmap, tetapi berkembang menjadi model PkM berbasis sport science yang terukur, terdokumentasi, berkelanjutan, dan dapat direplikasi, sebagai fondasi menuju Tahap 3: Penguatan Dampak dan Replikasi (2028–2029).

Secara keseluruhan, evaluasi berkala menunjukkan bahwa arah pengembangan PkM Prodi telah berada pada jalur yang sesuai dengan roadmap, sementara prioritas peningkatan ke depan adalah mengubah keberhasilan berbasis pelaksanaan kegiatan menjadi keberhasilan berbasis luaran, dampak, keberlanjutan, dan replikasi.

2.   Keterlibatan Mahasiswa

Keterlibatan mahasiswa dalam PkM merupakan komponen strategis dalam mendukung pelaksanaan Tridarma dan pencapaian kompetensi lulusan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan. Arah tersebut sesuai dengan Peta Jalan PkM yang menempatkan kegiatan pengabdian sebagai wahana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pelayanan profesional kepada masyarakat.

Pada tahun 2026, keterlibatan mahasiswa perlu terus dikembangkan sejalan dengan masuknya Prodi pada Tahap 2 Peta Jalan PkM, yaitu Pengembangan dan Implementasi. Mahasiswa tidak hanya diarahkan sebagai pelaksana teknis, tetapi secara bertahap diberikan kesempatan untuk terlibat dalam penerapan sport science, pengumpulan dan pengolahan data, monitoring, evaluasi, pendampingan mitra, serta pengembangan luaran kegiatan.

Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa aspek keterlibatan mahasiswa perlu diperkuat pada sisi dokumentasi dan pengukuran kualitas partisipasi. Oleh sebab itu, tindak lanjut yang diprioritaskan adalah penyusunan daftar mahasiswa dan pembagian tugas, logbook kegiatan, rubrik penilaian kompetensi, refleksi mahasiswa, serta dokumentasi kontribusi mahasiswa terhadap luaran PkM.

Dengan mekanisme tersebut, keterlibatan mahasiswa tidak hanya menjadi indikator kuantitatif dalam pelaksanaan PkM, tetapi menjadi bagian dari sistem pembelajaran berbasis pengalaman yang terukur, terdokumentasi, dievaluasi, dan ditindaklanjuti. Hal ini sekaligus memperkuat integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian serta mendukung sasaran jangka panjang Prodi untuk menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, profesional, dan mampu memberikan layanan keolahragaan kepada masyarakat.