DOWNLOAD LAPORAN LENGKAP TRACER STUDY 2025

LAPORAN TRACER STUDY 2025

A.    Gambaran Umum

Tracer Study Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan merupakan bagian penting dari sistem evaluasi dan penjaminan mutu program studi yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Data tracer study memberikan informasi mengenai profil akademik alumni, status setelah lulus, kompetensi yang dibutuhkan dan dikuasai, proses transisi menuju dunia kerja, karakteristik pekerjaan, kesesuaian pendidikan dengan pekerjaan, aktivitas studi lanjut, kewirausahaan, serta berbagai pengalaman alumni setelah menyelesaikan pendidikan.

Hasil tracer study menjadi sumber informasi strategis bagi Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan dalam menilai relevansi proses pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan bidang ilmu keolahragaan. Informasi tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi kurikulum, memperkuat metode pembelajaran, meningkatkan kompetensi mahasiswa, mengembangkan jejaring kerja sama dengan dunia kerja, serta merancang program pengembangan karier dan kewirausahaan bagi mahasiswa dan alumni.

Berdasarkan dokumen tracer study yang dianalisis, alumni Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan menunjukkan profil yang cukup beragam. Sebagian alumni telah memasuki dunia kerja, sebagian mengembangkan usaha secara mandiri, sebagian melanjutkan pendidikan, sementara sebagian lainnya masih berada dalam proses transisi menuju dunia kerja. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa lulusan memiliki beberapa jalur pengembangan karier dan tidak hanya berorientasi pada pekerjaan formal, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang melalui kewirausahaan dan pendidikan lanjutan.

 

B.    Profil Akademik Alumni

Profil akademik alumni menunjukkan capaian IPK yang relatif baik. Data pada dokumen memperlihatkan bahwa sebagian besar alumni memiliki IPK pada rentang lebih dari 3,50 hingga mendekati 4,00. Beberapa alumni bahkan mencapai IPK 3,90-an, dengan salah satu capaian tertinggi sebesar 3,92. Di sisi lain, terdapat beberapa alumni dengan IPK pada kisaran 3,30–3,50.

 

  Gambar 1. Sebaran IPK alumni

 

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa secara akademik lulusan memiliki fondasi pembelajaran yang baik. Capaian IPK yang relatif tinggi menjadi salah satu modal penting dalam memasuki dunia profesional, melanjutkan pendidikan, maupun mengembangkan karier di bidang keolahragaan dan bidang lain yang relevan.

Namun demikian, capaian akademik perlu dipandang bersama dengan indikator keberhasilan lulusan lainnya. Tracer study menunjukkan bahwa keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan menerapkan kompetensi, membangun jejaring, beradaptasi dengan lingkungan kerja, menguasai teknologi, berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta mengembangkan kemampuan kewirausahaan.

 

C.     Status Alumni Setelah Lulus

Status alumni menunjukkan adanya beberapa jalur utama setelah menyelesaikan pendidikan, yaitu bekerja penuh waktu/paruh waktu, berwiraswasta, melanjutkan pendidikan, belum memungkinkan bekerja, dan tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan. Distribusi tersebut memperlihatkan bahwa transisi lulusan menuju kehidupan pascakampus berlangsung melalui jalur yang beragam.

 

 Gambar 2. Status alumni setelah lulus

 

Kondisi ini merupakan gambaran penting bagi program studi karena menunjukkan bahwa lulusan tidak seluruhnya memasuki pasar kerja formal secara langsung. Sebagian memilih melanjutkan pendidikan sebagai bagian dari pengembangan kompetensi akademik dan profesional, sedangkan sebagian lainnya memilih jalur kewirausahaan. Pada saat yang sama, masih terdapat alumni yang berada dalam tahap pencarian pekerjaan sehingga membutuhkan dukungan pengembangan karier dan perluasan akses terhadap informasi pasar kerja.

Dengan demikian, hasil tracer study memberikan indikasi bahwa Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan perlu mempertahankan dukungan terhadap kesiapan kerja sekaligus memperkuat career development, entrepreneurship, dan lifelong learning agar seluruh lulusan memiliki alternatif pengembangan karier yang lebih luas.

 

D.    Kompetensi Alumni

Evaluasi kompetensi alumni dilakukan dengan membandingkan kompetensi yang diperlukan di dunia kerja dengan kompetensi yang dikuasai oleh alumni. Aspek yang dievaluasi meliputi etika, keahlian bidang ilmu, komunikasi, kerja sama tim, penggunaan teknologi informasi, dan pengembangan diri.

Data menunjukkan bahwa banyak alumni memberikan penilaian tinggi terhadap kompetensi yang mereka perlukan dan kuasai. Penilaian pada beberapa aspek mencapai skor 4–5. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang diberikan selama masa studi telah memberikan bekal yang cukup kuat bagi lulusan untuk menghadapi tuntutan profesional.

 


Gambar 3. Status kompetensi alumni

 

Khususnya pada aspek etika, keahlian bidang ilmu, komunikasi, dan kerja sama, terlihat bahwa sejumlah alumni memberikan skor tinggi. Temuan ini merupakan indikasi positif bahwa proses pendidikan tidak hanya membangun penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga mendukung pembentukan karakter profesional.

Meskipun demikian, terdapat beberapa responden yang menunjukkan adanya selisih antara kompetensi yang dibutuhkan dan kompetensi yang dikuasai. Kondisi ini menjadi dasar penting bagi program studi untuk melakukan evaluasi berkelanjutan, terutama dalam memperkuat kompetensi yang bersifat adaptif, teknologi informasi, komunikasi profesional, pengembangan diri, dan keterampilan yang secara langsung dibutuhkan dalam dunia kerja.

 

E.     Transisi Alumni Menuju Dunia Kerja

Data mengenai waktu mulai mencari pekerjaan menunjukkan bahwa alumni menempuh strategi transisi yang berbeda. Sebagian telah mulai mencari pekerjaan sebelum lulus, sebagian mulai mencari pekerjaan setelah lulus, dan sebagian lainnya menyatakan tidak mencari pekerjaan karena memiliki jalur aktivitas yang berbeda.

 

Gambar 4. Status kompetensi alumni

 

Temuan ini memperlihatkan pentingnya intervensi karier sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. Program studi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga perlu membantu mahasiswa memahami dunia kerja, menyusun portofolio, membangun jejaring profesional, mengikuti magang, memanfaatkan platform pencarian kerja, dan mempersiapkan diri menghadapi proses rekrutmen.

Semakin dini mahasiswa mengenali kebutuhan dunia kerja, semakin besar peluang mereka untuk melakukan transisi yang lebih terencana setelah lulus.

 

F.     Jalur Mendapatkan Pekerjaan

 

 

Gambar 4. Sebaran Jalur Mendapatkan Pekerjaan



Alumni memperoleh pekerjaan melalui berbagai jalur, antara lain iklan lowongan, internet atau iklan daring, dihubungi perusahaan, relasi, jejaring yang dibangun sejak kuliah, membangun bisnis sendiri, penempatan kerja atau magang, serta jalur lainnya. Data memperlihatkan bahwa jejaring dan relasi menjadi salah satu komponen penting dalam proses memperoleh pekerjaan.

Temuan tersebut menegaskan pentingnya penguatan hubungan antara program studi dengan alumni, pengguna lulusan, dunia usaha, dunia industri, organisasi profesi, serta mitra kerja. Jejaring yang kuat dapat menjadi saluran informasi pekerjaan sekaligus membuka peluang magang, rekrutmen, kolaborasi, dan pengembangan karier.

Oleh sebab itu, pengembangan career center, tracer study berkelanjutan, database alumni, job fair, career coaching, serta program magang dan rekrutmen berbasis mitra menjadi langkah yang relevan untuk memperkuat transisi lulusan ke dunia kerja.

 

G.    Masa Tunggu Mendapatkan Pekerjaan

Masa tunggu alumni menunjukkan variasi yang cukup besar. Terdapat alumni yang memperoleh pekerjaan segera setelah lulus atau bahkan sebelum lulus, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu beberapa bulan. Data yang ditampilkan menunjukkan masa tunggu mulai dari 0 bulan hingga 12 bulan, dengan sejumlah alumni memperoleh pekerjaan pada masa tunggu 0–1 bulan.

 

Gambar 5. Sebaran Jalur Mendapatkan Pekerjaan



Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian lulusan telah memiliki kesiapan kerja yang baik sehingga mampu memasuki dunia kerja secara relatif cepat. Namun, adanya alumni dengan masa tunggu yang lebih panjang menunjukkan perlunya penguatan mekanisme pendampingan karier

Program studi dapat menggunakan data masa tunggu ini sebagai indikator evaluasi kesiapan kerja lulusan. Upaya yang dapat diarahkan meliputi peningkatan pengalaman praktik, pemagangan, sertifikasi kompetensi, penguatan soft skills, pelatihan penyusunan CV dan portofolio, simulasi wawancara, serta akses informasi lowongan yang lebih sistematis.

 

H.    Karakteristik Tempat Kerja dan Profesi Alumni

Alumni bekerja pada berbagai jenis lembaga, meliputi instansi pemerintah, BUMN/BUMD, perusahaan swasta, institusi/organisasi multilateral, organisasi non-profit, serta wiraswasta/perusahaan sendiri. Data tersebut menunjukkan bahwa lulusan memiliki fleksibilitas untuk bekerja pada sektor yang cukup beragam.

 

  Gambar 5. Sebaran Karakteristik Tempat Kerja dan Profesi Alumni

 

Pada aspek tingkat tempat kerja, terdapat alumni yang bekerja pada tingkat lokal/wilayah, nasional, maupun multinasional/internasional. Bahkan terdapat alumni yang bekerja pada lingkungan multinasional/internasional.

Profesi yang dijalankan alumni juga sangat beragam. Beberapa bekerja sebagai guru PJOK, personal trainer, pelatih, coach, masseur/terapis, atlet, pelatih renang, sport science dan sport massage, serta profesi administratif, media, pemasaran, pelayanan, dan profesi lainnya.

Keragaman profesi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi lulusan S1 Ilmu Keolahragaan memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup tinggi. Lulusan tidak hanya terserap pada profesi olahraga secara langsung, tetapi juga mampu beradaptasi pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan komunikasi, manajemen, administrasi, teknologi, pelayanan, dan pengelolaan organisasi.

 

I.      Kesesuaian Bidang Studi dengan Pekerjaan

Kesesuaian antara bidang studi dengan pekerjaan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai relevansi pendidikan tinggi. Data tracer study menunjukkan bahwa tingkat keeratan pekerjaan dengan bidang studi alumni bervariasi mulai dari sangat erat, erat, cukup erat, kurang erat, hingga tidak sama sekali.

 

Gambar 6. Kesesuaian Bidang Studi dengan Pekerjaan

 

Adanya alumni yang menyatakan hubungan pekerjaan dengan bidang studi sangat erat menjadi indikator positif bahwa kompetensi keilmuan yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan secara langsung dalam pekerjaan. Profesi seperti personal trainer, guru PJOK, pelatih, sport science, sport massage, pelatih renang, dan profesi olahraga lainnya merupakan contoh pekerjaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan keilmuan olahraga.

Namun, adanya sebagian alumni yang bekerja pada bidang yang kurang erat atau tidak sama sekali juga perlu menjadi perhatian. Hal ini tidak selalu menunjukkan ketidaksesuaian pendidikan, tetapi dapat mencerminkan luasnya peluang karier lulusan dan kebutuhan alumni untuk beradaptasi terhadap pasar kerja.

 

J.      Kesesuaian Tingkat Pendidikan dengan Pekerjaan

Pada aspek kesesuaian tingkat pendidikan, sebagian besar alumni berada pada kategori tingkat pendidikan yang sama dengan tuntutan pekerjaan. Selain itu, terdapat alumni yang bekerja pada pekerjaan dengan tuntutan pendidikan setingkat lebih tinggi, setingkat lebih rendah, maupun pekerjaan yang tidak memerlukan pendidikan tinggi.

 

 

                                          Gambar 7. Kesesuaian Tingkat Pendidikan dengan Pekerjaan

 

Dominannya kategori tingkat pendidikan yang sama merupakan indikator positif karena menunjukkan bahwa pendidikan sarjana yang ditempuh alumni secara umum memiliki relevansi dengan tuntutan pekerjaan. Temuan ini juga memperkuat pentingnya menjaga keselarasan antara capaian pembelajaran lulusan, struktur kurikulum, kompetensi praktis, dan kebutuhan pengguna lulusan.

 

K.    Pendapatan Alumni yang Bekerja

Data take home pay alumni menunjukkan variasi pendapatan yang cukup lebar, mulai dari kurang dari Rp1.000.000 hingga lebih dari Rp10.000.000. Distribusi tersebut menunjukkan adanya perbedaan kondisi pekerjaan, sektor tempat bekerja, pengalaman, posisi, serta karakteristik pekerjaan alumni.

 

 

Gambar 8. Sebaran Pendapatan Alumni yang Bekerja

 

Beberapa alumni memiliki pendapatan relatif tinggi, bahkan terdapat data sebesar Rp10.000.000. Di sisi lain, masih terdapat alumni dengan pendapatan pada kelompok di bawah Rp2.000.000. Variasi ini perlu dibaca secara kontekstual karena pendapatan tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi lulusan, tetapi juga jenis pekerjaan, lokasi, status pekerjaan, pengalaman kerja, dan sektor industri.

Bagi program studi, informasi ini penting sebagai bahan evaluasi terhadap daya saing lulusan. Peningkatan sertifikasi, kompetensi profesional, pengalaman kerja, kemampuan digital, kemampuan bahasa asing, serta keterampilan kewirausahaan dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai kompetitif lulusan.

 

L.     Alumni yang Melanjutkan Pendidikan

Sebagian alumni memilih melanjutkan pendidikan sebagai strategi pengembangan kompetensi. Data menunjukkan adanya alumni yang melanjutkan pendidikan dengan masa tunggu yang bervariasi, mulai dari sekitar satu bulan hingga dua belas bulan.

Menariknya, sumber pembiayaan studi lanjut didominasi oleh beasiswa, meskipun terdapat pula alumni yang menggunakan biaya sendiri.

 

 Gambar 9. Alumni yang Melanjutkan Pendidikan

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa lulusan memiliki orientasi terhadap pengembangan kapasitas akademik dan profesional secara berkelanjutan. Program studi dapat memperkuat kecenderungan positif tersebut melalui penyediaan informasi beasiswa, pendampingan persiapan studi lanjut, penguatan kemampuan akademik dan penelitian, serta pengembangan jejaring dengan program pascasarjana di dalam maupun luar negeri.

 

M.   Alumni Berwiraswasta

Jalur kewirausahaan menjadi salah satu alternatif penting bagi lulusan S1 Ilmu Keolahragaan. Alumni tercatat mengembangkan usaha pada bidang jasa, perdagangan, industri kreatif, dan transportasi.

 

 Gambar 10. Alumni Berwiraswasta

 

Posisi alumni dalam usaha juga cukup beragam, mulai dari founder, co-founder, staff, hingga freelance/kerja lepas. Data memperlihatkan bahwa terdapat alumni yang berperan sebagai founder dan co-founder, yang menunjukkan adanya kemampuan untuk menciptakan dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Pendapatan alumni wiraswasta juga menunjukkan variasi yang cukup tinggi. Beberapa alumni tercatat memiliki take home pay mencapai Rp9.000.000–Rp10.000.000, sedangkan alumni lainnya berada pada rentang pendapatan yang lebih rendah.

Temuan ini menjadi dasar kuat bagi program studi untuk terus mengembangkan ekosistem kewirausahaan mahasiswa melalui pembelajaran berbasis proyek, inkubasi bisnis, pendampingan usaha, penguatan literasi finansial, digital marketing, serta pengembangan bisnis berbasis potensi industri olahraga.

 

N.    Implikasi terhadap Pengembangan Program Studi

Secara keseluruhan, hasil tracer study memberikan beberapa implikasi penting bagi pengembangan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan.

Pertama, relevansi kurikulum dengan dunia kerja perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan. Keragaman profesi alumni menunjukkan bahwa kurikulum perlu memberikan kompetensi inti keolahragaan sekaligus kompetensi pendukung yang memungkinkan lulusan beradaptasi dengan berbagai sektor pekerjaan.

Kedua, penguatan kesiapan kerja perlu dilakukan sejak mahasiswa masih aktif kuliah. Program magang, praktik lapangan, sertifikasi, career coaching, penyusunan portofolio, simulasi rekrutmen, serta pengenalan dunia industri perlu menjadi bagian yang semakin terintegrasi dalam pengalaman belajar mahasiswa.

Ketiga, jejaring alumni dan dunia kerja perlu diperkuat. Jalur memperoleh pekerjaan yang memanfaatkan relasi dan jejaring menunjukkan bahwa hubungan program studi dengan alumni, pengguna lulusan, organisasi profesi, dan mitra industri memiliki nilai strategis.

Keempat, kewirausahaan perlu ditempatkan sebagai salah satu jalur karier utama lulusan. Adanya alumni yang berperan sebagai founder, co-founder, maupun pekerja lepas menunjukkan potensi kewirausahaan yang perlu terus dikembangkan.

Kelima, penguatan kompetensi digital, komunikasi, kerja sama, dan pengembangan diri perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing lulusan dalam menghadapi perubahan dunia kerja.

 

O.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil tracer study, lulusan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan menunjukkan profil akademik yang baik, jalur karier yang beragam, serta kemampuan beradaptasi pada berbagai sektor pekerjaan. Alumni tidak hanya memasuki pekerjaan formal, tetapi juga mengembangkan usaha dan melanjutkan pendidikan.

Dari sisi kompetensi, alumni menunjukkan penguasaan yang relatif baik terhadap sejumlah kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, terutama etika, keahlian bidang ilmu, komunikasi, dan kerja sama. Hal ini memberikan indikasi bahwa proses pendidikan telah memberikan fondasi kompetensi yang relevan untuk memasuki kehidupan profesional.

Dari sisi dunia kerja, alumni terserap pada instansi pemerintah, perusahaan swasta, BUMN/BUMD, organisasi, maupun usaha mandiri. Profesi yang dijalankan juga menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan bidang keolahragaan, seperti guru PJOK, pelatih, personal trainer, coach, terapis, sport science, dan profesi olahraga lainnya, meskipun terdapat pula alumni yang berkarier pada bidang di luar keolahragaan.

Dengan demikian, hasil tracer study dapat dipandang sebagai indikator positif terhadap relevansi dan kebermanfaatan pendidikan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, sekaligus sebagai sumber data penting untuk mengidentifikasi ruang perbaikan. Ke depan, program studi perlu terus memperkuat keterkaitan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, meningkatkan pengalaman praktis dan sertifikasi mahasiswa, memperluas jejaring industri dan alumni, mengembangkan sistem layanan karier, serta memperkuat ekosistem kewirausahaan.

Tracer study dengan demikian tidak hanya menjadi laporan mengenai kondisi alumni setelah lulus, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memastikan bahwa proses pendidikan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan senantiasa relevan, adaptif, responsif terhadap kebutuhan stakeholder, dan berorientasi pada peningkatan mutu lulusan secara berkelanjutan.

 

Analisis Capaian Gold Standard Alumni

 


Gold Standard merupakan salah satu indikator strategis dalam evaluasi keberhasilan lulusan yang menggambarkan proporsi alumni yang berhasil memperoleh aktivitas pascalulus yang produktif, yaitu bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha. Pengukuran Gold Standard pada dashboard tracer study Universitas Negeri Surabaya mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 210/M/2023 tentang Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi serta Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Nomor 173/E/KPT/2023 tentang Petunjuk Teknis Pengukuran dan Perhitungan Insentif IKU PTN Akademik pada Ditjen Diktiristek.

Berdasarkan hasil pengukuran, populasi alumni sasaran tracer study berjumlah 120 orang dan seluruhnya, yaitu 120 alumni, telah mengisi tracer study. Dengan demikian, tingkat partisipasi alumni dalam pengisian tracer study mencapai 100%. Tingginya tingkat respons ini menjadi fondasi yang sangat baik bagi validitas data tracer study karena informasi mengenai kondisi alumni diperoleh dari keseluruhan populasi sasaran yang ditetapkan.

Dari 120 alumni sasaran, tercatat 77 alumni telah bekerja, dengan nilai konstanta capaian sebesar 63,9. Selain itu, terdapat 8 alumni yang melanjutkan studi dalam waktu ≤12 bulan setelah tanggal terbit ijazah, yang memberikan kontribusi konstanta sebesar 8 poin. Sementara itu, jalur kewirausahaan menunjukkan bahwa alumni yang berwirausaha memberikan kontribusi konstanta sebesar 14,4 poin. Secara keseluruhan, ketiga jalur aktivitas produktif tersebut menghasilkan Total Keseluruhan Konstanta sebesar 86,3.

Dengan demikian, capaian Gold Standard alumni mencapai 71,92%, yang dalam dashboard ditampilkan sebagai persentase alumni yang berhasil memiliki pekerjaan, melanjutkan studi, dan/atau menjadi wiraswasta. Capaian ini menunjukkan bahwa sebagian besar alumni telah berhasil memasuki salah satu jalur aktivitas produktif setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Kondisi tersebut menjadi indikator positif bahwa lulusan memiliki kemampuan untuk melakukan transisi dari lingkungan akademik menuju dunia profesional, pendidikan lanjutan, maupun aktivitas kewirausahaan.


Analisis Jalur Pekerjaan

Kontribusi terbesar terhadap Gold Standard berasal dari jalur pekerjaan, dengan nilai konstanta sebesar 63,9. Dari 77 alumni yang tercatat bekerja, sebanyak 67 alumni memperoleh pekerjaan dalam waktu ≤6 bulan, sedangkan 10 alumni memperoleh pekerjaan pada rentang waktu >6 hingga ≤12 bulan.

Kualitas transisi kerja juga terlihat dari aspek pendapatan. Dari alumni yang memperoleh pekerjaan dalam waktu ≤6 bulan, terdapat 34 alumni yang memperoleh gaji ≥1,2 kali UMP, yang memberikan kontribusi penuh sebesar 34 poin. Sementara itu, 33 alumni memperoleh gaji <1,2 kali UMP dan memberikan kontribusi sebesar 23,1 poin berdasarkan konstanta 0,7. Pada kelompok alumni yang memperoleh pekerjaan dalam rentang >6 hingga ≤12 bulan, terdapat 6 alumni dengan gaji ≥1,2 kali UMP dan 4 alumni dengan gaji <1,2 kali UMP.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan lulusan tidak hanya terlihat dari kemampuan memperoleh pekerjaan, tetapi juga dari kecepatan memperoleh pekerjaan dan kualitas pekerjaan yang diperoleh, khususnya berdasarkan indikator tingkat pendapatan. Hal ini memperlihatkan adanya daya serap lulusan yang cukup baik sekaligus memberikan informasi penting bagi program studi untuk terus meningkatkan daya saing lulusan.


Analisis Jalur Kewirausahaan

Jalur kewirausahaan juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian Gold Standard. Dashboard mencatat 10 alumni yang berwirausaha dalam waktu ≤6 bulan, dan seluruhnya memiliki pendapatan ≥1,2 kali UMP, sehingga memberikan kontribusi sebesar 12 poin. Selain itu, terdapat 3 alumni yang mulai berwirausaha dalam rentang waktu >6 hingga ≤12 bulan dengan pendapatan <1,2 kali UMP, yang memberikan kontribusi sebesar 2,4 poin. Total kontribusi jalur kewirausahaan mencapai 14,4 poin.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan merupakan salah satu jalur karier yang nyata bagi lulusan. Bahkan, seluruh alumni yang masuk dalam kategori wirausaha ≤6 bulan tercatat berada pada kelompok pendapatan ≥1,2 kali UMP. Hal ini menjadi indikasi positif mengenai potensi lulusan dalam menciptakan peluang kerja dan mengembangkan aktivitas ekonomi secara mandiri.

Bagi Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, temuan ini memiliki arti strategis karena bidang keolahragaan memiliki ruang kewirausahaan yang luas, seperti jasa kepelatihan, personal training, kebugaran, sport massage, penyelenggaraan kegiatan olahraga, jasa konsultasi olahraga, serta berbagai bentuk usaha berbasis industri olahraga. Oleh karena itu, capaian ini dapat menjadi dasar untuk semakin memperkuat entrepreneurial mindset mahasiswa sejak masa studi.


Analisis Jalur Melanjutkan Studi

Selain bekerja dan berwirausaha, terdapat 8 alumni yang melanjutkan studi dalam waktu ≤12 bulan setelah tanggal terbit ijazah. Jalur pendidikan lanjutan tersebut memberikan kontribusi sebesar 8 poin terhadap Gold Standard.

Keberadaan alumni yang melanjutkan studi menunjukkan bahwa keberhasilan lulusan tidak semata-mata diukur melalui penyerapan kerja, tetapi juga melalui keberlanjutan pengembangan kapasitas akademik dan profesional. Studi lanjut dapat menjadi strategi alumni untuk memperdalam keilmuan, meningkatkan kualifikasi akademik, memperluas kompetensi profesional, dan mempersiapkan diri untuk memasuki posisi pekerjaan yang lebih tinggi pada masa mendatang.


Makna Strategis Capaian Gold Standard

Secara keseluruhan, Gold Standard sebesar 71,92% dengan total konstanta 86,3 menunjukkan bahwa sebagian besar alumni telah berada pada jalur pascalulus yang produktif. Capaian ini merupakan gambaran positif mengenai keberhasilan transisi alumni dari pendidikan tinggi menuju dunia kerja, kewirausahaan, maupun pendidikan lanjutan.

Kekuatan utama capaian tersebut terletak pada tingginya partisipasi tracer study sebesar 100%, dominannya kontribusi alumni yang bekerja, serta adanya kontribusi yang cukup kuat dari jalur kewirausahaan dan studi lanjut. Data juga menunjukkan bahwa sebagian besar alumni yang bekerja memperoleh pekerjaan relatif cepat, yaitu dalam waktu ≤6 bulan, sementara sebagian alumni lainnya berhasil memasuki dunia kerja dalam rentang ≤12 bulan.

Meskipun demikian, capaian Gold Standard sebesar 71,92% juga memberikan ruang bagi Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan untuk melakukan peningkatan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan dapat diarahkan pada memperpendek masa tunggu lulusan, meningkatkan proporsi lulusan yang memperoleh pekerjaan dengan pendapatan ≥1,2 kali UMP, memperluas jejaring dengan dunia kerja, meningkatkan kualitas program magang, memperkuat layanan pengembangan karier, serta memperluas pembinaan kewirausahaan dan fasilitasi studi lanjut.


Kesimpulan Gold Standard

Berdasarkan hasil pengukuran Gold Standard, dapat disimpulkan bahwa Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan menunjukkan capaian yang positif dalam mengantarkan alumni menuju aktivitas pascalulus yang produktif. Dari 120 alumni sasaran, seluruhnya telah berpartisipasi dalam tracer study, 77 alumni tercatat bekerja, 8 alumni melanjutkan studi dalam waktu ≤12 bulan setelah memperoleh ijazah, dan aktivitas kewirausahaan memberikan kontribusi yang signifikan. Akumulasi ketiga jalur tersebut menghasilkan Total Keseluruhan Konstanta sebesar 86,3 dan capaian Gold Standard sebesar 71,92%.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa mayoritas alumni telah berhasil membangun keberlanjutan karier, pendidikan, atau usaha setelah lulus. Bagi program studi, hasil ini sekaligus menjadi bukti penting dalam mengevaluasi relevansi pendidikan dan kesiapan lulusan menghadapi kehidupan pascakampus. Ke depan, peningkatan Gold Standard perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan jumlah alumni yang bekerja, tetapi juga pada kecepatan memperoleh pekerjaan, kualitas dan tingkat pendapatan pekerjaan, penguatan kewirausahaan, serta keberlanjutan pendidikan alumni, sehingga capaian lulusan semakin kompetitif dan berkelanjutan.