DOWNLOAD LAPORAN LENGKAP TRACER STUDY 2024
Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan
Pelaksanaan Tracer Study Tahun
2024 Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan merupakan bagian penting dalam
upaya memperoleh informasi mengenai kondisi dan perkembangan lulusan setelah
menyelesaikan pendidikan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan gambaran mengenai
keberadaan alumni di dunia kerja, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi
terhadap relevansi kurikulum, ketercapaian kompetensi lulusan, kesesuaian
bidang pekerjaan, masa transisi menuju dunia kerja, serta kebutuhan
pengembangan kompetensi sesuai tuntutan dunia kerja. Dengan demikian, hasil
tracer study digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengembangan mutu
pembelajaran dan peningkatan relevansi pendidikan di Program Studi S1 Ilmu
Keolahragaan.
Berdasarkan hasil tracer study, sebagian
besar alumni telah memasuki dunia kerja, baik melalui pekerjaan penuh waktu
maupun paruh waktu. Selain bekerja, sebagian alumni memilih jalur melanjutkan
pendidikan dan berwirausaha, sementara sebagian lainnya masih berada dalam
tahap mencari pekerjaan. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan memiliki
orientasi karier yang beragam dan mampu memilih jalur pengembangan diri sesuai
dengan kondisi serta tujuan karier masing-masing. Data status alumni
menunjukkan adanya dominasi kelompok alumni yang telah bekerja, disertai
kelompok alumni yang melanjutkan pendidikan dan mengembangkan aktivitas kewirausahaan.
1. Kesiapan Akademik Lulusan
Dari sisi capaian akademik, lulusan S1 Ilmu Keolahragaan menunjukkan capaian IPK yang relatif baik, dengan sebagian besar alumni memiliki IPK di atas 3,00 dan terdapat alumni yang mencapai IPK mendekati 4,00. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa secara akademik lulusan memiliki dasar pengetahuan dan kemampuan yang cukup kuat untuk memasuki dunia profesional maupun melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Data IPK juga menunjukkan adanya variasi capaian akademik antaralumni, yang dapat menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan dukungan akademik mahasiswa.
2. Transisi Alumni Menuju Dunia Kerja
Salah satu temuan penting tracer study adalah pola transisi alumni dari perguruan tinggi menuju dunia kerja. Data menunjukkan bahwa alumni memperoleh pekerjaan melalui berbagai jalur, baik sebelum maupun sesudah lulus. Sebagian alumni bahkan telah mulai membangun jejaring dan memperoleh pekerjaan sebelum menyelesaikan pendidikan. Di sisi lain, terdapat alumni yang baru mulai mencari pekerjaan setelah lulus.
Keragaman pola tersebut menunjukkan
bahwa proses transisi lulusan ke dunia kerja tidak berlangsung secara seragam.
Oleh karena itu, Program Studi perlu terus memperkuat career preparation,
jejaring dengan dunia kerja, informasi lowongan pekerjaan, kegiatan magang,
serta hubungan dengan alumni dan pengguna lulusan agar mahasiswa memiliki akses
dan kesiapan yang lebih baik sebelum menyelesaikan studi.
3. Masa Tunggu Memperoleh Pekerjaan
Data masa tunggu menunjukkan bahwa
terdapat alumni yang mampu memperoleh pekerjaan segera setelah lulus bahkan
sebelum lulus, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu beberapa bulan
untuk memperoleh pekerjaan. Distribusi masa tunggu menunjukkan adanya alumni
dengan masa tunggu 0–3 bulan dan terdapat pula sebagian alumni yang membutuhkan
waktu lebih panjang, hingga 12 bulan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa daya serap lulusan cukup baik, namun masih terdapat ruang untuk meningkatkan kecepatan transisi alumni menuju pekerjaan. Program Studi dapat merespons kondisi tersebut melalui penguatan layanan karier, pelatihan penyusunan CV dan portofolio, simulasi wawancara, sertifikasi kompetensi, job matching, serta perluasan kerja sama dengan lembaga olahraga, sekolah, pusat kebugaran, klub olahraga, perusahaan, dan berbagai institusi pengguna lulusan.
4. Jalur Perolehan Pekerjaan
Alumni memperoleh pekerjaan melalui
berbagai mekanisme, antara lain informasi dari internet/iklan online,
relasi, jejaring yang dibangun sejak masa kuliah, penempatan kerja atau magang,
serta jalur lainnya. Data juga memperlihatkan bahwa jejaring personal dan
profesional memiliki peranan dalam membantu alumni memperoleh pekerjaan.
Hal ini memberikan implikasi penting
bagi pengembangan Program Studi. Jejaring alumni, dosen, mitra industri, dan
institusi olahraga perlu diposisikan sebagai ekosistem karier, bukan hanya
sebagai hubungan administratif. Penguatan database alumni dan penyediaan
informasi karier secara berkala dapat menjadi strategi untuk memperpendek masa
tunggu lulusan.
5. Karakteristik dan Profil Pekerjaan Alumni
Alumni S1 Ilmu Keolahragaan bekerja
pada sektor yang cukup beragam, baik pada instansi pemerintah, perusahaan
swasta, BUMN/BUMD, organisasi/institusi tertentu, maupun menjalankan usaha
sendiri. Data menunjukkan bahwa sektor swasta menjadi salah satu tempat
kerja yang cukup dominan, sementara sebagian alumni juga telah memasuki sektor
pemerintahan dan mengembangkan usaha mandiri.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa
lulusan tidak hanya terserap pada satu jenis lapangan pekerjaan. Lulusan dapat
mengembangkan karier pada sektor pendidikan, olahraga, kebugaran,
terapi/massage, manajemen, administrasi, maupun sektor pekerjaan lainnya.
Dengan demikian, profil lulusan menunjukkan adanya fleksibilitas dan
kemampuan adaptasi terhadap berbagai peluang kerja.
6. Kesesuaian Bidang Pekerjaan dengan Keilmuan
Kesesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan pekerjaan merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pendidikan tinggi. Hasil tracer study menunjukkan bahwa pekerjaan alumni memiliki tingkat keterkaitan yang beragam, mulai dari sangat erat, erat, cukup erat, kurang erat, hingga tidak memiliki keterkaitan langsung dengan bidang studi.
Secara substantif, banyak alumni telah bekerja pada profesi yang memiliki keterkaitan dengan kompetensi keolahragaan, seperti Guru PJOK, pelatih, personal trainer, coach, sport science/sport massage, masseur/terapis, dan profesi lain yang berhubungan dengan layanan olahraga dan kebugaran. Namun demikian, terdapat pula alumni yang bekerja pada bidang di luar kompetensi utama program studi.
Kondisi ini perlu dipandang secara positif sekaligus
kritis. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan fleksibilitas kompetensi
lulusan dalam memasuki pasar kerja. Di sisi lain, adanya pekerjaan yang
kurang atau tidak berkaitan dengan bidang studi menjadi masukan bagi Program
Studi untuk semakin memperkuat relevansi kompetensi inti, pengalaman praktik,
sertifikasi profesi, dan hubungan dengan industri olahraga.
7. Tingkat Pendapatan
Alumni

Dari sisi ekonomi, pendapatan alumni menunjukkan variasi yang cukup lebar. Sebagian alumni memperoleh pendapatan pada rentang di bawah Rp2 juta, sementara sebagian lainnya memperoleh pendapatan Rp3–5 juta, bahkan terdapat alumni dengan pendapatan hingga Rp10 juta atau lebih.
Variasi pendapatan tersebut merupakan gambaran dari keberagaman sektor, jenis pekerjaan, pengalaman kerja, lokasi kerja, serta tingkat tanggung jawab alumni. Temuan ini juga menunjukkan pentingnya pembekalan mahasiswa dengan kompetensi profesional, sertifikasi, kemampuan kewirausahaan, komunikasi, teknologi informasi, dan kemampuan pengembangan karier agar lulusan memiliki daya tawar yang semakin kuat di pasar kerja.
8. Pengembangan Karier melalui Wirausaha
Tracer study juga menunjukkan adanya alumni yang memilih jalur wirausaha sebagai alternatif pengembangan karier. Bidang usaha alumni meliputi sektor jasa, perdagangan, dan bidang kreatif. Beberapa alumni menjalankan usaha sebagai founder, sedangkan lainnya menjalankan peran sebagai staf dalam usaha yang dikembangkan.
Keberadaan alumni yang berwirausaha menunjukkan bahwa
Program Studi tidak hanya menghasilkan lulusan yang berorientasi sebagai
pencari kerja, tetapi juga memiliki potensi menghasilkan job creator.
Hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penguatan pembelajaran
kewirausahaan olahraga, inkubasi bisnis, pendampingan usaha mahasiswa, serta
pengembangan bisnis berbasis layanan olahraga dan kebugaran.
9. Alumni yang Melanjutkan Pendidikan
Selain memasuki dunia kerja, sebagian alumni memilih
untuk melanjutkan pendidikan. Masa tunggu untuk melanjutkan studi menunjukkan
variasi, mulai dari beberapa bulan hingga sekitar satu tahun. Sumber pembiayaan
studi lanjut juga berasal dari biaya sendiri maupun beasiswa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian lulusan memiliki orientasi terhadap pengembangan kompetensi dan pendidikan berkelanjutan. Kondisi ini menjadi peluang bagi Program Studi untuk memperkuat informasi mengenai beasiswa, kerja sama pendidikan lanjutan, serta jalur akademik menuju jenjang magister yang relevan dengan ilmu keolahragaan.
10. Kompetensi yang Dibutuhkan dan Dikuasai Alumni
Hasil evaluasi kompetensi memperlihatkan bahwa alumni
menilai sejumlah kompetensi memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi dalam dunia
kerja, antara lain etika, keahlian bidang ilmu, komunikasi, penggunaan
teknologi informasi, kerja sama tim, dan pengembangan diri. Pada banyak
responden, tingkat kompetensi yang dikuasai berada pada tingkat yang relatif
tinggi dan dalam sejumlah kasus berada pada tingkat yang sama dengan kompetensi
yang dipandang diperlukan.
Hal ini merupakan indikasi positif bahwa proses
pendidikan telah memberikan fondasi kompetensi yang relevan bagi lulusan.
Namun, masih terdapat beberapa responden yang menunjukkan adanya selisih
antara kompetensi yang dibutuhkan dan kompetensi yang dikuasai. Oleh sebab
itu, Program Studi perlu menggunakan hasil tersebut sebagai dasar untuk
melakukan penyempurnaan kurikulum dan memperkuat pembelajaran yang bersifat
aplikatif.
11. Implikasi terhadap
Pengembangan Program Studi
Secara keseluruhan, hasil tracer study memberikan
gambaran bahwa lulusan S1 Ilmu Keolahragaan memiliki kemampuan adaptasi yang
cukup baik dalam memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun
mengembangkan usaha mandiri. Keberagaman profesi alumni juga memperlihatkan
bahwa kompetensi yang diperoleh selama studi dapat diaplikasikan pada berbagai
sektor.
Namun demikian, tracer study juga memberikan beberapa
area yang perlu menjadi perhatian. Masa tunggu sebagian alumni masih relatif
panjang, terdapat variasi tingkat kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi,
serta terdapat kesenjangan pada beberapa kompetensi yang dibutuhkan dunia
kerja. Kondisi tersebut menjadi dasar penting bagi Program Studi untuk
melakukan perbaikan berkelanjutan.
12. Rencana Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil tracer study, Program Studi S1 Ilmu
Keolahragaan perlu memprioritaskan beberapa strategi tindak lanjut, yaitu:
- Memperkuat
relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri olahraga.
- Meningkatkan
pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan, termasuk magang dan proyek
berbasis dunia kerja.
- Memperkuat
kompetensi profesional lulusan melalui sertifikasi di bidang kepelatihan, kebugaran,
sport science, terapi/massage, dan bidang relevan lainnya.
- Mengembangkan
career preparation melalui pelatihan CV, portofolio, wawancara, personal branding, dan
pencarian kerja.
- Memperluas
kerja sama dengan pengguna lulusan, khususnya sekolah, klub olahraga, pusat kebugaran,
instansi pemerintah, perusahaan, dan organisasi olahraga.
- Mengoptimalkan
jejaring alumni
sebagai sumber informasi pekerjaan, mentoring, dan pengembangan karier.
- Mengembangkan
ekosistem kewirausahaan olahraga untuk mendorong lulusan menjadi pencipta lapangan
kerja.
- Memperkuat
penguasaan teknologi informasi, komunikasi, bahasa asing, dan kemampuan
adaptasi
sebagai kompetensi pendukung lulusan.
- Meningkatkan
fasilitasi studi lanjut dan beasiswa bagi alumni yang ingin mengembangkan kompetensi
akademiknya.
- Melaksanakan
tracer study secara berkala dan menggunakan hasilnya sebagai input dalam siklus
evaluasi dan pengembangan kurikulum.
Kesimpulan
Tracer Study Tahun 2024 menunjukkan
bahwa lulusan Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan telah memiliki kemampuan yang
cukup baik dalam bertransisi dari pendidikan tinggi menuju dunia profesional. Alumni menunjukkan keberagaman jalur
karier melalui pekerjaan, kewirausahaan, maupun studi lanjut. Profesi yang
dijalani juga mencakup berbagai bidang yang relevan dengan keilmuan
keolahragaan, seperti guru PJOK, pelatih, personal trainer, coach, sport science,
sport massage, dan profesi pendukung lainnya.
Lebih jauh, hasil tracer study memperlihatkan bahwa pendidikan
yang diberikan Program Studi telah memberikan fondasi kompetensi yang
dibutuhkan alumni dalam menjalankan aktivitas profesional. Meskipun
demikian, variasi masa tunggu kerja, tingkat keterkaitan bidang studi dengan
pekerjaan, serta adanya kebutuhan penguatan kompetensi tertentu menunjukkan
bahwa peningkatan mutu perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, hasil tracer study tidak hanya
berfungsi sebagai gambaran kondisi alumni, tetapi menjadi instrumen
strategis untuk memastikan keterkaitan antara proses pendidikan, kompetensi
lulusan, kebutuhan dunia kerja, dan pengembangan kurikulum. Program Studi
S1 Ilmu Keolahragaan perlu menjadikan temuan tersebut sebagai dasar dalam
memperkuat pembelajaran berbasis praktik, sertifikasi kompetensi, jejaring
dunia kerja, layanan karier, kewirausahaan, serta pengembangan kompetensi yang
adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri olahraga. Langkah tersebut
diharapkan mampu memperpendek masa transisi lulusan ke dunia kerja,
meningkatkan kesesuaian pekerjaan dengan bidang keilmuan, meningkatkan daya
saing lulusan, dan pada akhirnya memperkuat relevansi serta mutu Program Studi
S1 Ilmu Keolahragaan.
Analisis
Gold Standard Tracer Study Tahun 2024
Pengukuran Gold
Standard Tracer Study Tahun 2024 Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan
merupakan salah satu indikator penting untuk menggambarkan keberhasilan lulusan
dalam menjalani transisi setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Gold Standard
tidak hanya mempertimbangkan lulusan yang telah bekerja, tetapi juga
mengakomodasi lulusan yang melanjutkan studi maupun mengembangkan kegiatan
kewirausahaan. Dengan demikian, indikator ini memberikan gambaran yang
lebih komprehensif mengenai keberhasilan lulusan dalam melanjutkan aktivitas
produktif setelah menyelesaikan pendidikan.
Berdasarkan Dashboard Gold
Standard Tahun 2024, terdapat 99 alumni yang menjadi populasi sasaran Tracer
Study dan seluruhnya, yaitu 99 alumni, telah mengisi Tracer Study. Kondisi
tersebut menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat baik dan memberikan dasar
data yang kuat untuk melakukan pengukuran keberhasilan lulusan. Dari
keseluruhan alumni tersebut, tercatat 43 alumni telah bekerja, 23
alumni melanjutkan studi, dan terdapat alumni yang mengembangkan aktivitas
kewirausahaan.
Hasil pengukuran
menunjukkan bahwa indikator pekerjaan memberikan kontribusi sebesar 37,68%,
yang merepresentasikan alumni yang berhasil memiliki pekerjaan. Sementara itu,
indikator kelanjutan studi mencapai 19,8%, yang menunjukkan
adanya proporsi alumni yang melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan
program sarjana. Adapun indikator kewirausahaan tercatat sebesar 20%,
yang menggambarkan kontribusi alumni yang berhasil mengembangkan diri melalui
aktivitas usaha. Secara keseluruhan, ketiga jalur tersebut menghasilkan capaian
Gold Standard sebesar 80,91% atau sekitar 80,1 alumni secara
konstanta.
Capaian 80,91% Gold
Standard menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan telah berhasil memasuki
salah satu dari tiga jalur utama keberlanjutan aktivitas setelah lulus, yaitu bekerja,
melanjutkan studi, atau berwirausaha. Dengan demikian, keberhasilan lulusan
tidak semata-mata diukur berdasarkan kemampuan memperoleh pekerjaan, tetapi
juga berdasarkan kemampuan untuk melanjutkan pengembangan akademik maupun
menciptakan aktivitas ekonomi secara mandiri. Pendekatan ini memberikan
gambaran yang lebih luas mengenai outcome pendidikan Program Studi.
Analisis Berdasarkan Komponen
Gold Standard
Pada komponen kelanjutan
studi, tercatat 23 alumni melanjutkan studi dalam waktu ≤12 bulan
setelah tanggal terbit ijazah, dengan konstanta sebesar 23. Kondisi
ini menunjukkan bahwa sebagian lulusan memiliki orientasi yang kuat terhadap
pengembangan kompetensi akademik dan profesional melalui pendidikan lanjutan.
Keberlanjutan studi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan pada
jenjang sarjana dapat menjadi fondasi bagi lulusan untuk mengembangkan
kapasitas keilmuan pada jenjang pendidikan berikutnya.
Pada komponen pekerjaan,
terdapat 40 alumni yang memperoleh pekerjaan dalam waktu ≤6 bulan,
terdiri atas 25 alumni yang memperoleh pekerjaan dengan gaji ≥1,2 kali UMP
dan 15 alumni dengan gaji <1,2 kali UMP. Berdasarkan pembobotan Gold
Standard, kelompok tersebut memberikan kontribusi konstanta masing-masing
sebesar 25 dan 10,5. Selain itu, terdapat 3 alumni yang memperoleh pekerjaan
pada rentang waktu lebih dari 6 bulan hingga 12 bulan, dengan kontribusi
konstanta tambahan sebesar 0,8 dan 1. Dengan demikian, total konstanta komponen
alumni bekerja mencapai 37,3.
Data tersebut memberikan
indikasi bahwa kecepatan transisi alumni menuju dunia kerja merupakan salah
satu kekuatan utama, karena sebagian besar alumni yang bekerja memperoleh
pekerjaan dalam waktu tidak lebih dari enam bulan. Selain kecepatan memperoleh
pekerjaan, indikator Gold Standard juga mempertimbangkan tingkat pendapatan,
sehingga capaian tersebut menggambarkan bukan hanya keberhasilan memperoleh
pekerjaan, tetapi juga kualitas outcome pekerjaan berdasarkan kriteria yang
digunakan dalam pengukuran.
Pada komponen kewirausahaan,
tercatat 16 alumni yang berwirausaha dalam waktu ≤6 bulan, dengan 15
alumni berada pada kelompok pendapatan ≥1,2 kali UMP dan satu alumni
berada pada kelompok pendapatan <1,2 kali UMP. Berdasarkan
pembobotan, kelompok tersebut memberikan kontribusi konstanta sebesar 18 dan
1, sedangkan terdapat satu alumni yang mulai berwirausaha pada rentang
waktu lebih dari 6 hingga 12 bulan dengan kontribusi konstanta 0,8.
Secara keseluruhan, konstanta alumni wirausaha mencapai 19,8.
Temuan tersebut merupakan
indikator positif karena menunjukkan bahwa lulusan tidak hanya berorientasi
sebagai job seeker, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjadi job
creator. Aktivitas kewirausahaan alumni dapat menjadi salah satu potensi
yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh Program Studi melalui penguatan
pembelajaran kewirausahaan, pengembangan bisnis berbasis olahraga, inkubasi
usaha, serta pendampingan alumni dan mahasiswa dalam membangun usaha.
Makna Strategis Capaian Gold
Standard
Secara keseluruhan, Gold
Standard sebesar 80,91% menunjukkan bahwa sebagian besar alumni Program
Studi S1 Ilmu Keolahragaan telah mencapai outcome positif setelah menyelesaikan
pendidikan. Capaian tersebut dibangun dari tiga jalur utama, yaitu pekerjaan,
kewirausahaan, dan kelanjutan studi, sehingga memberikan gambaran yang
relatif komprehensif mengenai keberhasilan lulusan dalam membangun
keberlanjutan karier dan pengembangan diri.
Capaian ini juga
memperlihatkan bahwa proses pendidikan di Program Studi telah memberikan
fondasi yang memungkinkan lulusan untuk memilih dan menjalani berbagai jalur
setelah lulus. Sebagian alumni memasuki pasar kerja, sebagian melanjutkan
pendidikan, dan sebagian lainnya menciptakan aktivitas ekonomi melalui
kewirausahaan. Keberagaman outcome tersebut menjadi modal penting bagi
Program Studi dalam menunjukkan relevansi pendidikan yang diselenggarakan
dengan kebutuhan dan dinamika kehidupan setelah kelulusan.
Pengukuran Gold Standard
dalam dashboard tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 210/M/2023 tentang Indikator Kinerja
Utama Perguruan Tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi di Kemdikbudristek
serta Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi
Nomor 173/E/KPT/2023 tentang Petunjuk Teknis Pengukuran dan Perhitungan
Insentif IKU PTN Akademik pada Dirjendiktiristek. Dengan demikian, capaian
Gold Standard merupakan indikator yang memiliki dasar pengukuran yang jelas dan
dapat digunakan sebagai bagian dari evaluasi kinerja lulusan.
Implikasi
dan Tindak Lanjut
Meskipun capaian Gold
Standard telah mencapai 80,91%, hasil tersebut tetap perlu
ditindaklanjuti melalui strategi peningkatan kualitas outcome lulusan. Fokus
pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah alumni yang bekerja,
tetapi juga pada percepatan masa tunggu, peningkatan kualitas pekerjaan,
peningkatan pendapatan, penguatan relevansi pekerjaan dengan bidang keilmuan,
pengembangan kewirausahaan, serta fasilitasi studi lanjut.
Berdasarkan hasil
tersebut, Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan perlu:
- Memperkuat kesiapan kerja mahasiswa melalui
career preparation, pelatihan CV, wawancara, portofolio, personal
branding, dan simulasi rekrutmen.
- Memperluas kerja sama dengan dunia kerja dan pengguna
lulusan untuk membuka peluang rekrutmen dan
memperpendek masa tunggu alumni.
- Meningkatkan sertifikasi kompetensi profesional
pada bidang-bidang yang relevan dengan kebutuhan industri olahraga.
- Memperkuat ekosistem kewirausahaan olahraga
agar semakin banyak lulusan mampu menjadi pencipta lapangan kerja.
- Meningkatkan fasilitasi studi lanjut dan akses beasiswa
bagi alumni yang ingin melanjutkan pendidikan.
- Memperkuat keterkaitan kurikulum dengan kebutuhan dunia
kerja, khususnya melalui pembelajaran berbasis praktik,
proyek, magang, dan pengalaman profesional.
- Melakukan monitoring outcome alumni secara berkala
sehingga perubahan capaian Gold Standard dapat digunakan sebagai dasar
evaluasi program dan perencanaan strategis.
Kesimpulan
Analisis Gold Standard
Berdasarkan hasil
pengukuran, Gold Standard Tracer Study Tahun 2024 Program Studi S1 Ilmu
Keolahragaan mencapai 80,91%, dengan kontribusi konstanta sebesar 37,3
dari alumni bekerja, 19,8 dari alumni berwirausaha, dan 23 dari alumni yang
melanjutkan studi, sehingga menghasilkan total konstanta 80,1.
Capaian
tersebut menunjukkan bahwa mayoritas lulusan telah berhasil mencapai outcome
positif dalam bentuk pekerjaan, kewirausahaan, maupun kelanjutan studi. Tingginya
partisipasi tracer study—dengan 99 dari 99 alumni sasaran mengisi tracer—juga
memberikan dukungan kuat terhadap kualitas informasi yang digunakan dalam
pengukuran.
Dengan capaian tersebut,
Gold Standard dapat diposisikan sebagai salah satu indikator keberhasilan
Program Studi dalam menghasilkan lulusan yang mampu melanjutkan aktivitas
produktif setelah menyelesaikan pendidikan. Ke depan, capaian ini perlu
dipertahankan sekaligus ditingkatkan melalui penguatan relevansi kurikulum,
kesiapan kerja, jejaring industri, kewirausahaan, studi lanjut, dan sistem
layanan karier. Dengan demikian, peningkatan Gold Standard tidak hanya ditunjukkan
melalui peningkatan persentase, tetapi juga melalui peningkatan kualitas,
relevansi, dan keberlanjutan karier lulusan S1 Ilmu Keolahragaan.